Sabtu, 17 Mei 2014

Mencoba untuk ikhlas



ANTARA UJIAN DAN HADIAH

Di depan stasiun kereta api itu berdiri  sebuah rumah sederhana dengan arsitektur kuno yang tampak ramai sekali. Halaman yang tidak begitu luas namun asri dengan pepohonan rindang  membuat orang orang itu betah disana. Tentunya sambil menikmati sayur semur yang menjadi menu handalan warung itu. Ya…disebelah rumah itu ada paviliun kecil yang ternyata adalah warung makan sederhana yang manyajikan aneka makanan khas jawa tengah. Pemilik warung sekaligus pemilik rumah itu adalah sepasang suami istri. Siti Rondiyah dan Ahmad Faozan namanya. Mereka dikarunia 9 orang anak yang masih kecil kecil. Dengan kehadiran 9 orang anak, tanpa penghasilan tetap, hanya mengandalkan hasil dari warung makan tidak membuat hidup sepasang suami istri itu menderita. Bahkan mereka sangat bahagia dengan kehidupan yang tengah mereka jalani. Hal itu terlihat dari wajah Rondiyah maupun Faozan yang selalu bersinar. Dan dari bibir keduanya selalu tersungging senyum indah keikhlasan. Dari pagi buta sebelum ayam jantan berkokok mereka sudah bangun. Mempersiapkan segala sesuatu untuk menjemput rejeki yang masih tergantung di awan.
Gemiricik suara air yang mengalir dari sebuah gentong memecah kesunyian pagi itu. Air dari padasan itu yang selalu memberi terang hati Rondiyah dan Faozan. Meskipun adzan shubuh belum terdengar, tapi Rondiyah dan Faozan selalu mengambil air wudhu terlebih dahulu untuk melakukan sholat sunnah yaitu sholat tahajud kemudian dilanjutkan dengan sholat fajar. Mereka adalah dua sejoli yang taat akan beribadah.
“Pak…ini kan belum shubuh, kenapa Bapak sudah wudhu ?” tanya Rozak  anak pertamanya yang masih berumur 14 tahun saat terjaga dari tidur lelapnya karena dingin yang menyelimuti tubuhnya.
” Le...sholat itu tidak hanya sholat wajib saja, tapi sebaiknya kita menyempatkan sholat sunnah juga. Sholat kui konco kanggo awake dewe. Awak dewe iso crito opo sing dirasakke ning jero  ati” (Sholat itu teman untuk diri kita sendiri. Kita bisa mencurahkan isi hati kita)” kata Faozan dalam bahasa jawa. ”Malaikat akan membukakan pintu rahmat untuk umatnya yang melakukan sholat fajar. Tapi kita juga harus berusaha untuk menjemput rejeki yang masih ada di sana, kalau kita hanya berdoa tapi tidak mau bekerja, rejeki itu tidak mau datang” kata Faozan kembali. Ya..sudah sekarang kamu tidur lagi sana, nanti kalau sudah adzan shubuh bapak bangunkan. Bapak mau sholat dulu kemudian membantu ibumu di dapur menyediakan makanan untuk orang orang yang akan bepergian naik kereta. Karena adikmu sebentar lagi akan lahir, jadi ibumu tidak boleh terlalu capek” kata Faozan kepada Rozak anaknya.
”Rozak mau ikut sholat fajar juga pak..lagian ini kan hari minggu, sekolah libur, jadi Rozak bisa mempunyai banyak waktu membantu ibu” jawab Rozak. Rozak adalah anak pertama dari Rondiyah dan Faozan. Dia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan mempunyai tanggung jawab terhadap 7 orang adik adiknya. Sikap welas asih yang ditanamkan Rondiyah terhadap anak anaknya sangat melekat pada diri Rozak.
Rondiyah tetap semangat bekerja. Perutnya yang buncit tidak menjadi penghalang untuk melakukan aktivitas. Masa depan anak anaknya lebih utama dari apapun yang ada didunia ini. Bagi Rondiyah dan Faozan, anak anak adalah sinar mentari yang menghangatkan jiwa. Kelincahan dan kenakalannya adalah bagian dari kehidupan yang memberikan cahaya pada hati keduanya. Rondiyah dan Faozan tidak pernah sedikitpun mengenalkan keindahan duniawi kepada anak anaknya. Hidup apa adanya, tidak ngoyo, selalu ikhlas dengan keadaan yang ada merupakan sumber dari ketenangan jiwa. Meskipun hidup jauh dari kilauan dan gemerlapnya kemewahan dunia, tapi mereka seperti hidup dalam istana  yang berhias taman bunga dengan siraman air yang memberikan kesejukan. Kebahagiaan karena kerukunan dan kedamaian adalah harta yang paling mahal dibanding emas permata. Itulah prinsip hidup Rondiyah dan Faozan. Kalau dibilang miskin, mereka bukan orang miskin, karena mereka mampu mencukupi kebutuhan semua anaknya. Dari makan, pakaian dan sekolah. Semua kerja keras Rondiyah dan Faozan hanya untuk kebutuhan anak anaknya. Mereka berkeinginan agar anak anaknya bisa sekolah tinggi dengan berbekal ilmu agama yang cukup.
”Buk...kenapa rumah kita tidak seperti rumah orang lain ? Rumah Latif lantainya bagus, rumah Dirgo juga temboknya bagus. Kok rumah kita tidak ?” tanya Umi anak kedua.
“Nduk…bukannya bapak ibu nggak mau membenahi rumah. Tapi sekolahmu dan sekolah adik adikmu itu lebih penting. Buat apa berlomba lomba mempercantik rumah. Berlomba lombalah mempercantik hati. Hati yang cantik itu lebih abadi daripada rumah yang megah. Bapak karo ibu ora biso nyangoni bondho lan donyo. Bapak karo ibu mung biso nyangoni ilmu. Ilmu soko sekolah lan ilmu agomo sing iso ngancani uripmu salawase (Bapak dan ibu tidak bisa memberikan harta kekayaan. Bapak dan ibu hanya bisa memberikan ilmu. Ilmu dari sekolah dan ilmu agama yang bisa menemani hidup kalian selamanya)” kata Rondiyah dengan bahasa jawa.
Pukul 3 dini hari, seperti biasa Faozan disibukkan dengan aktivitasnya. Tapi kesibukkannya kali ini bukan kesibukan didapur untuk menyiapkan warung makannya, tapi karena istrinya akan melahirkan. Ya...Rondiyah akan melahirkan anak yang ke 9. meskipun sudah mempunyai 8 orang anak, tapi pasangan suami istri itu dan juga anak anaknya sangat suka cita menyambut kehadiran anugerah yang sangat luar biasa itu. Pukul 6 pagi di saat matahari mulai terbit. Hadirlah karunia yang telah dinantikan. Makhluk mungil nan suci dengan tangis yang memberikan kebahagiaan keluarga Rondiyah. Dialah pemberi semangat Rondiyah dan Faozan. Kebahagiaan juga dirasakan Rozak, Umi dan juga anak anak Rondiyah yang lain. Suryo....ya....mereka memberi nama bayi mungil itu Suryo. Yang artinya sinar matahari dengan harapan jika kelak besar nanti bisa memberikan sinar terang yang tidak akan pernah mati. Seperti layaknya sinar matahari yang selalu menyinari bumi.
Hidup itu memang penuh dengan warna. Ada warna yang cerah yang mengisyaratkan kegembiraan dan ada pula warna yang kelam pertanda kesedihan. Demikian juga keluarga Rondiyah. Kebahagiaan yang baru saja dirasakan pasangan suami istri itu seketika sirna ketika dokter mengatakan ada kelainan pada anak mereka.
”Maaf pak...setelah kami periksa, ternyata anak bapak  tidak seperti manusia normal lainnya” kata dokter itu.
”Tidak normal bagaimana dokter ? Anak saya cacat ? Saya melihat dia sehat dan sempurna kok. Nggak ada yang kurang” kata Faozan dengan nada tidak percaya.
“Begini pak...jantung anak bapak ini bermasalah. Kalau manusia normal memiliki 4 bilik ruang jantung, tapi anak bapak ini hanya memiliki 3 bilik ruang jantung. Jadi jantung satu dengan jantung satunya lagi saling menempel” jelas dokter itu dengan hati hati.
Faozan tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter. Jantung  Faozan seperti berhenti berdetak ketika mendengar penjelasan dokter. Apalagi saat dokter mengatakan anaknya tidak bisa hidup lama. Mungkin dia bisa hidup hanya dalam hitungan hari. Pelangi keceriaan yang semula menghiasi wajahnya berubah menjadi awan hitam. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan terhadap istrinya yang masih lemah. Faozan tidak tega mengatakan ini semua. Apalagi terhadap anak anaknya yang sangat antusias menunggu kehadiran adik mereka. Tapi keyakinan hati Faozan sangat kuat. Tuhanlah yang menentukan segalanya bukan manusia.
Di tatapnya sosok tubuh yang dia cintai. Tubuh yang terbaring lemah di atas ranjam beralaskan seprai berwarna putih. Perlahan didekatinya sosok itu. Belaian lembutnya mampu memberi kehangatan pada tubuh Rondiyah yang masih belum pulih. Perlahan mata indah penuh kebahagiaan itu terbuka. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya dia bertanya pada Faozan.
“Anak kita mana pak ?”
“Anak kita sedang di ruang perawatan bu. Dia baik baik saja” jawab Faozan.
“Benar dia baik baik saja ?” tanya Rondiyah dengan curiga. Rupanya naluri keibuannya bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya perlahan Faozan menjelaskan semua tentang apa yang dikatakan dokter padanya. Rondiyah hanya menarik napas dan diam tak berkata apapun. Seperti halnya Faozan pelangi kebahagiaan yang menghiasi raut wajah Rondiyah berubah menjadi awan hitam. Anak yang dilahirkan ternyata tidak sesuai dengan harapan mereka. Takut akan kehilangan sesuatu yang berharga sangat dirasakannya. Air mata yang jatuh dipipinya tidak bisa memungkiri kesedihan yang dirasakan. Namun Faozan berusaha membesarkan hati Rondiyah.
”Wis lah Bu..ojo ditangisi. Kabeh kui kersaning Gusti. Awak dewe mung iso nglakoni. Ikhlas marang kersane Gusti. Gusti Allah kui Moho Welas. Urip lan mati kui soko Gusti Allah. Anggep wae iki berkah kanggo awak dewe dudu musibah. (sudahlah bu…jangan menangis. Semua itu kehendak Allah. Kita hanya sekedar menjalankan. Ikhlas dengan kehendak Allah. Allah itu Maha Pengasih. Hidup dan mati itu berasal dari Allah. Anggap saja ini adalah berkah bukan musibah)” kata Faozan membesarkan hati Rondiyah dengan bahasa jawa.  Hari demi hari dilalui Rondiyah dan Faozan dengan kegembiraan dan juga kesedihan jika mengingat hidup Suryo tidak akan lama. Hati mereka selalu diselimuti kecemasan jika saat yang ditunggu tiba. Tapi keduanya tidak bisa berbuat apa apa selain berdoa dan menyerahkan segalanya kepada yang Maha Kuasa.  Mereka sangat yakin kebesaran Tuhan. Keyakinan itulah yang membuat semangat mereka kembali bersinar. Rondiyah dan Faozan tidak ingin terlihat sedih dihadapan anak anaknya. Pasangan suami istri itu telah siap jika seandainya Allah memanggil Suryo. Namun dalam hitungan hari, bulan, bahkan tahun. Allah masih mempercayakan Rondiyah dan Faozan untuk merawat Suryo. Suryo tumbuh seperti layaknya anak normal yang lainnya, walaupun kondisi fisiknya tidak sesehat anak anak yang lainnya. Dia sering sakit sakitan. Keluar masuk rumah sakit adalah hal yang biasa bagi Suryo. Meskipun demikian rasa percaya dirinya sangat tinggi. Suka bercanda adalah sifat Suryo yang diwarisi dari Faozan ayahnya. Ya…apa yang dikatakan dokter kalau Suryo hanya bisa hidup dalam hitungan hari ternyata salah besar. Tuhan telah merencanakan semuanya. Dia mempunyai rahasia yang manusia tidak akan pernah tahu. Dan rahasia Tuhan itu memberikan hikmah yang sangat luar biasa.
”Sur...ayo kita mancing !” ajak teman teman Suryo.
”Ya sebentar, aku minta ijin dulu sama ibu” kata Suryo kepada teman temannya.
”Buk...Suryo mancing dulu ya..sama Adi dan Tanto” kata Suryo minta ijin.
”Ya...hati hati ya..jangan lama lama sebelum maghrib harus sudah pulang” kata Rondiyah. Melihat keceriaan Suryo, ketakutan akan rasa kehilangan yang selama ini menyelimuti hatinya sirna. Dia seperti melihat mukjizat dari Tuhan untuk Suryo. Bayi yang semula divonis tidak bisa hidup lama, kini telah tumbuh menjadi anak yang selalu ceria walaupun kondisi fisiknya tidak sesehat anak anak yang lain.
Hari begitu cepat berlalu, Suyo kecil  kini telah dewasa dan sudah menyelesaikan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi swasta di jogja. Bukan Suryo saja yang bisa menyelesaikan kuliahnya tapi juga  5 orang kakaknya telah menamatkan pendidikannya sampai perguruan tinggi. Sedangkan 3 orang kakaknya sudah mempunyai usaha sendiri walau hanya tamat SMA. Kerja keras Rondiyah dan Faozan telah membuahkan hasil. kedisiplinan, kerja keras, tidak ngoyo dan berusaha ikhlas dengan keadaan yang ada  diterapkan juga pada anak anaknya.  
Dan kini paviliun kecil itu bukan sebuah warung makan yang menyediakan aneka makanan khas jawa lagi. Tapi sebuah perusahaan yang mengelola jual beli komputer, service komputer, kursus dan internet. Suryolah yang merombak semua itu. Kondisi fisik yang lemah dan sering sakit sakitan tidak mematahkan semangatnya untuk berkarya.
”Itulah pak likmu nduk...semangatnya tinggi. Dia terus berjuang untuk menghidupi istri dan satu orang anaknya. Dan dia juga harus merawat nenekmu yang sudah tua,  meskipun dia sendiri sakit sakitan. Karena hanya dia yang tinggal satu rumah dengan nenek. Tapi semangatnya yang luar biasa itulah yang harus kita contoh” cerita ibu padaku.
Dan sekarang rumah itu hanya tinggal kenangan. Kakek dan nenekku yang tak lain adalah Rondiyah dan Faozan meninggalkan kami semua anak dan cucu cucunya untuk menghadap Sang Kholiq. Dalam rumah itulah kami anak dan cucu cucunya mengerti tentang kehidupan dan ketenangan hati. Selalu semangat, ikhlas dan menganggap semua yang diberikan oleh Tuhan adalah hadiah bukan ujian. Dua tahun setelah kepergian nenekku, Tuhanpun memanggil pamanku Suryo. Setelah lelah berjuang melawan sakit yang menemani selama hidupnya. Tidak ada yang pernah tahu rencana Tuhan. Keikhlasan nenek dan kakekku dalam menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan, keikhlasan mereka dalam menerima takdir yang diberikan Tuhan terhadap pamanku dan menganggap semua yang diberikan Tuhan adalah hadiah, serta semangat paman Suryo yang sangat luar biasa dalam menjalani kehidupan merupakan pelajaran yang sangat berharga buat kami.

============================================


1 Komentar:

Pada 17 Juni 2014 pukul 02.59 , Blogger Ade Anita mengatakan...

subhanallah... kisah yang luar biasa ... makasih ya sudah ikut give awayku

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda