Mencoba untuk ikhlas
ANTARA UJIAN DAN HADIAH
Di depan stasiun kereta api itu berdiri sebuah rumah sederhana dengan arsitektur kuno yang
tampak ramai sekali. Halaman yang tidak begitu luas namun asri dengan pepohonan
rindang membuat orang orang itu betah
disana. Tentunya sambil menikmati sayur semur yang menjadi menu handalan warung
itu. Ya…disebelah rumah itu ada paviliun kecil yang ternyata adalah warung
makan sederhana yang manyajikan aneka makanan khas jawa tengah. Pemilik warung
sekaligus pemilik rumah itu adalah sepasang suami istri. Siti Rondiyah dan
Ahmad Faozan namanya. Mereka dikarunia 9 orang anak yang masih kecil kecil. Dengan
kehadiran 9 orang anak, tanpa penghasilan tetap, hanya mengandalkan hasil dari
warung makan tidak membuat hidup sepasang suami istri itu menderita. Bahkan mereka sangat bahagia dengan
kehidupan yang tengah mereka jalani. Hal itu terlihat dari wajah Rondiyah maupun
Faozan yang selalu bersinar. Dan dari bibir keduanya selalu tersungging senyum
indah keikhlasan. Dari pagi buta sebelum ayam jantan berkokok mereka sudah
bangun. Mempersiapkan segala sesuatu untuk menjemput rejeki yang masih
tergantung di awan.
Gemiricik suara air yang mengalir dari sebuah gentong
memecah kesunyian pagi itu. Air
dari padasan itu yang selalu memberi terang hati Rondiyah dan Faozan. Meskipun
adzan shubuh belum terdengar, tapi Rondiyah dan Faozan selalu mengambil air
wudhu terlebih dahulu untuk melakukan sholat sunnah yaitu sholat tahajud
kemudian dilanjutkan dengan sholat fajar. Mereka adalah dua sejoli yang taat
akan beribadah.
“Pak…ini kan belum shubuh,
kenapa Bapak sudah wudhu ?” tanya Rozak anak pertamanya yang masih berumur 14 tahun
saat terjaga dari tidur lelapnya karena dingin yang menyelimuti tubuhnya.
” Le...sholat itu tidak hanya
sholat wajib saja, tapi sebaiknya kita menyempatkan sholat sunnah juga. Sholat kui konco kanggo awake dewe. Awak dewe iso
crito opo sing dirasakke ning jero ati” (Sholat itu teman untuk diri kita sendiri. Kita bisa mencurahkan isi hati kita)” kata Faozan
dalam bahasa jawa. ”Malaikat akan membukakan pintu rahmat untuk umatnya yang
melakukan sholat fajar. Tapi kita juga harus berusaha untuk menjemput rejeki yang
masih ada di sana, kalau kita hanya berdoa tapi tidak mau bekerja, rejeki itu
tidak mau datang” kata Faozan kembali. Ya..sudah sekarang kamu tidur lagi sana,
nanti kalau sudah adzan shubuh bapak bangunkan. Bapak mau sholat dulu kemudian
membantu ibumu di dapur menyediakan makanan untuk orang orang yang akan bepergian
naik kereta. Karena adikmu sebentar lagi akan lahir, jadi ibumu tidak boleh
terlalu capek” kata Faozan kepada Rozak anaknya.
”Rozak mau ikut sholat fajar
juga pak..lagian ini kan hari minggu, sekolah libur, jadi Rozak bisa mempunyai
banyak waktu membantu ibu” jawab Rozak. Rozak adalah anak pertama dari Rondiyah
dan Faozan. Dia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan mempunyai tanggung jawab
terhadap 7 orang adik adiknya. Sikap welas asih yang ditanamkan Rondiyah
terhadap anak anaknya sangat melekat pada diri Rozak.
Rondiyah tetap semangat
bekerja. Perutnya yang buncit tidak menjadi penghalang untuk melakukan
aktivitas. Masa depan anak anaknya lebih utama dari apapun yang ada didunia
ini. Bagi Rondiyah dan Faozan, anak anak adalah sinar mentari yang
menghangatkan jiwa. Kelincahan dan kenakalannya adalah bagian dari kehidupan
yang memberikan cahaya pada hati keduanya. Rondiyah dan Faozan tidak pernah
sedikitpun mengenalkan keindahan duniawi kepada anak anaknya. Hidup apa adanya,
tidak ngoyo, selalu ikhlas dengan keadaan yang ada merupakan sumber dari
ketenangan jiwa. Meskipun hidup jauh dari kilauan dan gemerlapnya kemewahan
dunia, tapi mereka seperti hidup dalam istana
yang berhias taman bunga dengan siraman air yang memberikan kesejukan. Kebahagiaan
karena kerukunan dan kedamaian adalah harta yang paling mahal dibanding emas permata.
Itulah prinsip hidup Rondiyah dan Faozan. Kalau dibilang miskin, mereka bukan
orang miskin, karena mereka mampu mencukupi kebutuhan semua anaknya. Dari
makan, pakaian dan sekolah. Semua kerja keras Rondiyah dan Faozan hanya untuk
kebutuhan anak anaknya. Mereka berkeinginan agar anak anaknya bisa sekolah
tinggi dengan berbekal ilmu agama yang cukup.
”Buk...kenapa rumah kita tidak
seperti rumah orang lain ? Rumah Latif lantainya bagus,
rumah Dirgo juga temboknya bagus. Kok rumah kita tidak ?” tanya Umi anak kedua.
“Nduk…bukannya bapak ibu nggak mau membenahi rumah. Tapi sekolahmu dan sekolah adik adikmu itu
lebih penting. Buat apa berlomba lomba mempercantik
rumah. Berlomba lombalah mempercantik hati. Hati yang cantik itu lebih abadi
daripada rumah yang megah. Bapak karo ibu ora biso nyangoni bondho
lan donyo. Bapak karo ibu mung biso nyangoni ilmu. Ilmu soko
sekolah lan ilmu agomo sing iso ngancani uripmu salawase (Bapak dan ibu tidak
bisa memberikan harta kekayaan. Bapak dan ibu hanya bisa memberikan ilmu. Ilmu
dari sekolah dan ilmu agama yang bisa menemani hidup kalian selamanya)”
kata Rondiyah dengan bahasa jawa.
Pukul 3 dini hari, seperti
biasa Faozan disibukkan dengan aktivitasnya. Tapi kesibukkannya kali ini bukan
kesibukan didapur untuk menyiapkan warung makannya, tapi karena istrinya akan
melahirkan. Ya...Rondiyah akan melahirkan anak yang ke 9. meskipun sudah mempunyai
8 orang anak, tapi pasangan suami istri itu dan juga anak anaknya sangat suka
cita menyambut kehadiran anugerah yang sangat luar biasa itu. Pukul 6 pagi di
saat matahari mulai terbit. Hadirlah karunia yang telah dinantikan. Makhluk
mungil nan suci dengan tangis yang memberikan kebahagiaan keluarga Rondiyah.
Dialah pemberi semangat Rondiyah dan Faozan. Kebahagiaan juga dirasakan Rozak,
Umi dan juga anak anak Rondiyah yang lain. Suryo....ya....mereka memberi nama
bayi mungil itu Suryo. Yang artinya sinar matahari dengan harapan jika kelak
besar nanti bisa memberikan sinar terang yang tidak akan pernah mati. Seperti
layaknya sinar matahari yang selalu menyinari bumi.
Hidup itu memang penuh dengan warna. Ada warna yang
cerah yang mengisyaratkan kegembiraan dan ada pula warna yang kelam pertanda
kesedihan. Demikian juga keluarga Rondiyah. Kebahagiaan yang baru saja dirasakan pasangan
suami istri itu seketika sirna ketika dokter mengatakan ada kelainan pada anak
mereka.
”Maaf pak...setelah kami periksa,
ternyata anak bapak tidak seperti
manusia normal lainnya” kata dokter itu.
”Tidak normal bagaimana dokter ? Anak saya cacat ? Saya
melihat dia sehat dan sempurna kok. Nggak ada yang kurang” kata Faozan dengan
nada tidak percaya.
“Begini pak...jantung anak bapak ini bermasalah. Kalau
manusia normal memiliki 4 bilik ruang jantung, tapi anak bapak ini hanya
memiliki 3 bilik ruang jantung. Jadi jantung satu dengan jantung satunya lagi
saling menempel” jelas dokter itu dengan hati hati.
Faozan tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter.
Jantung Faozan seperti berhenti berdetak
ketika mendengar penjelasan dokter. Apalagi saat dokter mengatakan anaknya tidak bisa hidup lama. Mungkin dia
bisa hidup hanya dalam hitungan hari. Pelangi keceriaan yang semula menghiasi
wajahnya berubah menjadi awan hitam. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan
terhadap istrinya yang masih lemah. Faozan tidak tega mengatakan ini semua. Apalagi
terhadap anak anaknya yang sangat antusias menunggu kehadiran adik mereka. Tapi
keyakinan hati Faozan sangat kuat. Tuhanlah yang menentukan segalanya bukan
manusia.
Di tatapnya sosok tubuh yang
dia cintai. Tubuh yang terbaring lemah di atas ranjam
beralaskan seprai berwarna putih. Perlahan didekatinya sosok itu. Belaian
lembutnya mampu memberi kehangatan pada tubuh Rondiyah yang masih belum pulih. Perlahan
mata indah penuh kebahagiaan itu terbuka. Dengan senyum yang tersungging di
bibirnya dia bertanya pada Faozan.
“Anak kita mana pak ?”
“Anak kita sedang di ruang perawatan
bu. Dia baik baik saja” jawab Faozan.
“Benar dia baik baik saja ?” tanya Rondiyah dengan
curiga. Rupanya naluri
keibuannya bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya perlahan Faozan
menjelaskan semua tentang apa yang dikatakan dokter padanya. Rondiyah hanya menarik
napas dan diam tak berkata apapun. Seperti halnya Faozan pelangi kebahagiaan yang
menghiasi raut wajah Rondiyah berubah menjadi awan hitam. Anak yang dilahirkan
ternyata tidak sesuai dengan harapan mereka. Takut akan kehilangan sesuatu yang
berharga sangat dirasakannya. Air mata yang jatuh dipipinya tidak bisa
memungkiri kesedihan yang dirasakan. Namun Faozan berusaha membesarkan hati
Rondiyah.
”Wis lah Bu..ojo ditangisi. Kabeh kui kersaning
Gusti. Awak dewe mung iso nglakoni. Ikhlas marang kersane Gusti.
Gusti Allah kui Moho Welas. Urip lan mati kui soko Gusti Allah. Anggep wae iki
berkah kanggo awak dewe dudu musibah. (sudahlah bu…jangan menangis. Semua itu kehendak
Allah. Kita hanya sekedar menjalankan. Ikhlas dengan kehendak Allah. Allah itu
Maha Pengasih. Hidup dan mati itu berasal dari Allah. Anggap saja ini adalah
berkah bukan musibah)” kata Faozan membesarkan hati Rondiyah dengan bahasa
jawa. Hari demi hari dilalui Rondiyah
dan Faozan dengan kegembiraan dan juga kesedihan jika mengingat hidup Suryo
tidak akan lama. Hati mereka selalu diselimuti kecemasan jika saat yang
ditunggu tiba. Tapi keduanya tidak bisa berbuat apa apa selain berdoa dan
menyerahkan segalanya kepada yang Maha Kuasa. Mereka sangat yakin kebesaran Tuhan. Keyakinan
itulah yang membuat semangat mereka kembali bersinar. Rondiyah
dan Faozan tidak ingin terlihat sedih dihadapan anak anaknya. Pasangan suami
istri itu telah siap jika seandainya Allah memanggil Suryo. Namun dalam
hitungan hari, bulan, bahkan tahun. Allah masih mempercayakan Rondiyah dan
Faozan untuk merawat Suryo. Suryo tumbuh seperti layaknya anak normal yang
lainnya, walaupun kondisi fisiknya tidak sesehat anak anak yang lainnya. Dia
sering sakit sakitan. Keluar masuk rumah sakit adalah hal yang biasa bagi
Suryo. Meskipun demikian rasa percaya dirinya sangat tinggi. Suka bercanda
adalah sifat Suryo yang diwarisi dari Faozan ayahnya. Ya…apa yang dikatakan
dokter kalau Suryo hanya bisa hidup dalam hitungan hari ternyata salah besar. Tuhan telah merencanakan semuanya. Dia mempunyai
rahasia yang manusia tidak akan pernah tahu. Dan rahasia Tuhan itu memberikan
hikmah yang sangat luar biasa.
”Sur...ayo kita mancing !”
ajak teman teman Suryo.
”Ya sebentar, aku minta ijin
dulu sama ibu” kata Suryo kepada teman temannya.
”Buk...Suryo mancing dulu
ya..sama Adi dan Tanto” kata Suryo minta ijin.
”Ya...hati hati ya..jangan
lama lama sebelum maghrib harus sudah pulang” kata Rondiyah. Melihat keceriaan
Suryo, ketakutan akan rasa kehilangan yang selama ini menyelimuti hatinya
sirna. Dia seperti melihat mukjizat dari Tuhan untuk Suryo. Bayi yang semula
divonis tidak bisa hidup lama, kini telah tumbuh menjadi anak yang selalu ceria
walaupun kondisi fisiknya tidak sesehat anak anak yang lain.
Hari begitu cepat berlalu,
Suyo kecil kini telah dewasa dan sudah
menyelesaikan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi swasta di jogja. Bukan Suryo
saja yang bisa menyelesaikan kuliahnya tapi juga 5 orang kakaknya telah menamatkan pendidikannya
sampai perguruan tinggi. Sedangkan 3 orang kakaknya sudah mempunyai usaha
sendiri walau hanya tamat SMA. Kerja keras Rondiyah dan Faozan telah membuahkan
hasil. kedisiplinan, kerja keras, tidak ngoyo dan berusaha ikhlas dengan
keadaan yang ada diterapkan juga pada
anak anaknya.
Dan kini paviliun kecil itu bukan
sebuah warung makan yang menyediakan aneka makanan khas jawa lagi. Tapi sebuah perusahaan
yang mengelola jual beli komputer, service komputer, kursus dan internet.
Suryolah yang merombak semua itu. Kondisi fisik yang lemah dan sering sakit
sakitan tidak mematahkan semangatnya untuk berkarya.
”Itulah pak likmu
nduk...semangatnya tinggi. Dia terus berjuang untuk menghidupi istri dan satu
orang anaknya. Dan dia juga harus merawat nenekmu yang sudah tua, meskipun dia sendiri sakit sakitan. Karena
hanya dia yang tinggal satu rumah dengan nenek. Tapi semangatnya yang luar
biasa itulah yang harus kita contoh” cerita ibu padaku.
Dan sekarang rumah itu hanya
tinggal kenangan. Kakek dan nenekku yang tak lain adalah Rondiyah dan Faozan
meninggalkan kami semua anak dan cucu cucunya untuk menghadap Sang Kholiq.
Dalam rumah itulah kami anak dan cucu cucunya mengerti tentang kehidupan dan
ketenangan hati. Selalu semangat, ikhlas dan menganggap semua yang diberikan
oleh Tuhan adalah hadiah bukan ujian. Dua tahun setelah kepergian nenekku, Tuhanpun
memanggil pamanku Suryo. Setelah lelah berjuang melawan sakit yang menemani
selama hidupnya. Tidak ada yang pernah tahu rencana Tuhan. Keikhlasan nenek dan
kakekku dalam menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan, keikhlasan mereka
dalam menerima takdir yang diberikan Tuhan terhadap pamanku dan menganggap
semua yang diberikan Tuhan adalah hadiah, serta semangat paman Suryo yang
sangat luar biasa dalam menjalani kehidupan merupakan pelajaran yang sangat
berharga buat kami.
============================================


1 Komentar:
subhanallah... kisah yang luar biasa ... makasih ya sudah ikut give awayku
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda