Sabtu, 17 Mei 2014

Mencoba untuk ikhlas



ANTARA UJIAN DAN HADIAH

Di depan stasiun kereta api itu berdiri  sebuah rumah sederhana dengan arsitektur kuno yang tampak ramai sekali. Halaman yang tidak begitu luas namun asri dengan pepohonan rindang  membuat orang orang itu betah disana. Tentunya sambil menikmati sayur semur yang menjadi menu handalan warung itu. Ya…disebelah rumah itu ada paviliun kecil yang ternyata adalah warung makan sederhana yang manyajikan aneka makanan khas jawa tengah. Pemilik warung sekaligus pemilik rumah itu adalah sepasang suami istri. Siti Rondiyah dan Ahmad Faozan namanya. Mereka dikarunia 9 orang anak yang masih kecil kecil. Dengan kehadiran 9 orang anak, tanpa penghasilan tetap, hanya mengandalkan hasil dari warung makan tidak membuat hidup sepasang suami istri itu menderita. Bahkan mereka sangat bahagia dengan kehidupan yang tengah mereka jalani. Hal itu terlihat dari wajah Rondiyah maupun Faozan yang selalu bersinar. Dan dari bibir keduanya selalu tersungging senyum indah keikhlasan. Dari pagi buta sebelum ayam jantan berkokok mereka sudah bangun. Mempersiapkan segala sesuatu untuk menjemput rejeki yang masih tergantung di awan.
Gemiricik suara air yang mengalir dari sebuah gentong memecah kesunyian pagi itu. Air dari padasan itu yang selalu memberi terang hati Rondiyah dan Faozan. Meskipun adzan shubuh belum terdengar, tapi Rondiyah dan Faozan selalu mengambil air wudhu terlebih dahulu untuk melakukan sholat sunnah yaitu sholat tahajud kemudian dilanjutkan dengan sholat fajar. Mereka adalah dua sejoli yang taat akan beribadah.
“Pak…ini kan belum shubuh, kenapa Bapak sudah wudhu ?” tanya Rozak  anak pertamanya yang masih berumur 14 tahun saat terjaga dari tidur lelapnya karena dingin yang menyelimuti tubuhnya.
” Le...sholat itu tidak hanya sholat wajib saja, tapi sebaiknya kita menyempatkan sholat sunnah juga. Sholat kui konco kanggo awake dewe. Awak dewe iso crito opo sing dirasakke ning jero  ati” (Sholat itu teman untuk diri kita sendiri. Kita bisa mencurahkan isi hati kita)” kata Faozan dalam bahasa jawa. ”Malaikat akan membukakan pintu rahmat untuk umatnya yang melakukan sholat fajar. Tapi kita juga harus berusaha untuk menjemput rejeki yang masih ada di sana, kalau kita hanya berdoa tapi tidak mau bekerja, rejeki itu tidak mau datang” kata Faozan kembali. Ya..sudah sekarang kamu tidur lagi sana, nanti kalau sudah adzan shubuh bapak bangunkan. Bapak mau sholat dulu kemudian membantu ibumu di dapur menyediakan makanan untuk orang orang yang akan bepergian naik kereta. Karena adikmu sebentar lagi akan lahir, jadi ibumu tidak boleh terlalu capek” kata Faozan kepada Rozak anaknya.
”Rozak mau ikut sholat fajar juga pak..lagian ini kan hari minggu, sekolah libur, jadi Rozak bisa mempunyai banyak waktu membantu ibu” jawab Rozak. Rozak adalah anak pertama dari Rondiyah dan Faozan. Dia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan mempunyai tanggung jawab terhadap 7 orang adik adiknya. Sikap welas asih yang ditanamkan Rondiyah terhadap anak anaknya sangat melekat pada diri Rozak.
Rondiyah tetap semangat bekerja. Perutnya yang buncit tidak menjadi penghalang untuk melakukan aktivitas. Masa depan anak anaknya lebih utama dari apapun yang ada didunia ini. Bagi Rondiyah dan Faozan, anak anak adalah sinar mentari yang menghangatkan jiwa. Kelincahan dan kenakalannya adalah bagian dari kehidupan yang memberikan cahaya pada hati keduanya. Rondiyah dan Faozan tidak pernah sedikitpun mengenalkan keindahan duniawi kepada anak anaknya. Hidup apa adanya, tidak ngoyo, selalu ikhlas dengan keadaan yang ada merupakan sumber dari ketenangan jiwa. Meskipun hidup jauh dari kilauan dan gemerlapnya kemewahan dunia, tapi mereka seperti hidup dalam istana  yang berhias taman bunga dengan siraman air yang memberikan kesejukan. Kebahagiaan karena kerukunan dan kedamaian adalah harta yang paling mahal dibanding emas permata. Itulah prinsip hidup Rondiyah dan Faozan. Kalau dibilang miskin, mereka bukan orang miskin, karena mereka mampu mencukupi kebutuhan semua anaknya. Dari makan, pakaian dan sekolah. Semua kerja keras Rondiyah dan Faozan hanya untuk kebutuhan anak anaknya. Mereka berkeinginan agar anak anaknya bisa sekolah tinggi dengan berbekal ilmu agama yang cukup.
”Buk...kenapa rumah kita tidak seperti rumah orang lain ? Rumah Latif lantainya bagus, rumah Dirgo juga temboknya bagus. Kok rumah kita tidak ?” tanya Umi anak kedua.
“Nduk…bukannya bapak ibu nggak mau membenahi rumah. Tapi sekolahmu dan sekolah adik adikmu itu lebih penting. Buat apa berlomba lomba mempercantik rumah. Berlomba lombalah mempercantik hati. Hati yang cantik itu lebih abadi daripada rumah yang megah. Bapak karo ibu ora biso nyangoni bondho lan donyo. Bapak karo ibu mung biso nyangoni ilmu. Ilmu soko sekolah lan ilmu agomo sing iso ngancani uripmu salawase (Bapak dan ibu tidak bisa memberikan harta kekayaan. Bapak dan ibu hanya bisa memberikan ilmu. Ilmu dari sekolah dan ilmu agama yang bisa menemani hidup kalian selamanya)” kata Rondiyah dengan bahasa jawa.
Pukul 3 dini hari, seperti biasa Faozan disibukkan dengan aktivitasnya. Tapi kesibukkannya kali ini bukan kesibukan didapur untuk menyiapkan warung makannya, tapi karena istrinya akan melahirkan. Ya...Rondiyah akan melahirkan anak yang ke 9. meskipun sudah mempunyai 8 orang anak, tapi pasangan suami istri itu dan juga anak anaknya sangat suka cita menyambut kehadiran anugerah yang sangat luar biasa itu. Pukul 6 pagi di saat matahari mulai terbit. Hadirlah karunia yang telah dinantikan. Makhluk mungil nan suci dengan tangis yang memberikan kebahagiaan keluarga Rondiyah. Dialah pemberi semangat Rondiyah dan Faozan. Kebahagiaan juga dirasakan Rozak, Umi dan juga anak anak Rondiyah yang lain. Suryo....ya....mereka memberi nama bayi mungil itu Suryo. Yang artinya sinar matahari dengan harapan jika kelak besar nanti bisa memberikan sinar terang yang tidak akan pernah mati. Seperti layaknya sinar matahari yang selalu menyinari bumi.
Hidup itu memang penuh dengan warna. Ada warna yang cerah yang mengisyaratkan kegembiraan dan ada pula warna yang kelam pertanda kesedihan. Demikian juga keluarga Rondiyah. Kebahagiaan yang baru saja dirasakan pasangan suami istri itu seketika sirna ketika dokter mengatakan ada kelainan pada anak mereka.
”Maaf pak...setelah kami periksa, ternyata anak bapak  tidak seperti manusia normal lainnya” kata dokter itu.
”Tidak normal bagaimana dokter ? Anak saya cacat ? Saya melihat dia sehat dan sempurna kok. Nggak ada yang kurang” kata Faozan dengan nada tidak percaya.
“Begini pak...jantung anak bapak ini bermasalah. Kalau manusia normal memiliki 4 bilik ruang jantung, tapi anak bapak ini hanya memiliki 3 bilik ruang jantung. Jadi jantung satu dengan jantung satunya lagi saling menempel” jelas dokter itu dengan hati hati.
Faozan tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter. Jantung  Faozan seperti berhenti berdetak ketika mendengar penjelasan dokter. Apalagi saat dokter mengatakan anaknya tidak bisa hidup lama. Mungkin dia bisa hidup hanya dalam hitungan hari. Pelangi keceriaan yang semula menghiasi wajahnya berubah menjadi awan hitam. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan terhadap istrinya yang masih lemah. Faozan tidak tega mengatakan ini semua. Apalagi terhadap anak anaknya yang sangat antusias menunggu kehadiran adik mereka. Tapi keyakinan hati Faozan sangat kuat. Tuhanlah yang menentukan segalanya bukan manusia.
Di tatapnya sosok tubuh yang dia cintai. Tubuh yang terbaring lemah di atas ranjam beralaskan seprai berwarna putih. Perlahan didekatinya sosok itu. Belaian lembutnya mampu memberi kehangatan pada tubuh Rondiyah yang masih belum pulih. Perlahan mata indah penuh kebahagiaan itu terbuka. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya dia bertanya pada Faozan.
“Anak kita mana pak ?”
“Anak kita sedang di ruang perawatan bu. Dia baik baik saja” jawab Faozan.
“Benar dia baik baik saja ?” tanya Rondiyah dengan curiga. Rupanya naluri keibuannya bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya perlahan Faozan menjelaskan semua tentang apa yang dikatakan dokter padanya. Rondiyah hanya menarik napas dan diam tak berkata apapun. Seperti halnya Faozan pelangi kebahagiaan yang menghiasi raut wajah Rondiyah berubah menjadi awan hitam. Anak yang dilahirkan ternyata tidak sesuai dengan harapan mereka. Takut akan kehilangan sesuatu yang berharga sangat dirasakannya. Air mata yang jatuh dipipinya tidak bisa memungkiri kesedihan yang dirasakan. Namun Faozan berusaha membesarkan hati Rondiyah.
”Wis lah Bu..ojo ditangisi. Kabeh kui kersaning Gusti. Awak dewe mung iso nglakoni. Ikhlas marang kersane Gusti. Gusti Allah kui Moho Welas. Urip lan mati kui soko Gusti Allah. Anggep wae iki berkah kanggo awak dewe dudu musibah. (sudahlah bu…jangan menangis. Semua itu kehendak Allah. Kita hanya sekedar menjalankan. Ikhlas dengan kehendak Allah. Allah itu Maha Pengasih. Hidup dan mati itu berasal dari Allah. Anggap saja ini adalah berkah bukan musibah)” kata Faozan membesarkan hati Rondiyah dengan bahasa jawa.  Hari demi hari dilalui Rondiyah dan Faozan dengan kegembiraan dan juga kesedihan jika mengingat hidup Suryo tidak akan lama. Hati mereka selalu diselimuti kecemasan jika saat yang ditunggu tiba. Tapi keduanya tidak bisa berbuat apa apa selain berdoa dan menyerahkan segalanya kepada yang Maha Kuasa.  Mereka sangat yakin kebesaran Tuhan. Keyakinan itulah yang membuat semangat mereka kembali bersinar. Rondiyah dan Faozan tidak ingin terlihat sedih dihadapan anak anaknya. Pasangan suami istri itu telah siap jika seandainya Allah memanggil Suryo. Namun dalam hitungan hari, bulan, bahkan tahun. Allah masih mempercayakan Rondiyah dan Faozan untuk merawat Suryo. Suryo tumbuh seperti layaknya anak normal yang lainnya, walaupun kondisi fisiknya tidak sesehat anak anak yang lainnya. Dia sering sakit sakitan. Keluar masuk rumah sakit adalah hal yang biasa bagi Suryo. Meskipun demikian rasa percaya dirinya sangat tinggi. Suka bercanda adalah sifat Suryo yang diwarisi dari Faozan ayahnya. Ya…apa yang dikatakan dokter kalau Suryo hanya bisa hidup dalam hitungan hari ternyata salah besar. Tuhan telah merencanakan semuanya. Dia mempunyai rahasia yang manusia tidak akan pernah tahu. Dan rahasia Tuhan itu memberikan hikmah yang sangat luar biasa.
”Sur...ayo kita mancing !” ajak teman teman Suryo.
”Ya sebentar, aku minta ijin dulu sama ibu” kata Suryo kepada teman temannya.
”Buk...Suryo mancing dulu ya..sama Adi dan Tanto” kata Suryo minta ijin.
”Ya...hati hati ya..jangan lama lama sebelum maghrib harus sudah pulang” kata Rondiyah. Melihat keceriaan Suryo, ketakutan akan rasa kehilangan yang selama ini menyelimuti hatinya sirna. Dia seperti melihat mukjizat dari Tuhan untuk Suryo. Bayi yang semula divonis tidak bisa hidup lama, kini telah tumbuh menjadi anak yang selalu ceria walaupun kondisi fisiknya tidak sesehat anak anak yang lain.
Hari begitu cepat berlalu, Suyo kecil  kini telah dewasa dan sudah menyelesaikan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi swasta di jogja. Bukan Suryo saja yang bisa menyelesaikan kuliahnya tapi juga  5 orang kakaknya telah menamatkan pendidikannya sampai perguruan tinggi. Sedangkan 3 orang kakaknya sudah mempunyai usaha sendiri walau hanya tamat SMA. Kerja keras Rondiyah dan Faozan telah membuahkan hasil. kedisiplinan, kerja keras, tidak ngoyo dan berusaha ikhlas dengan keadaan yang ada  diterapkan juga pada anak anaknya.  
Dan kini paviliun kecil itu bukan sebuah warung makan yang menyediakan aneka makanan khas jawa lagi. Tapi sebuah perusahaan yang mengelola jual beli komputer, service komputer, kursus dan internet. Suryolah yang merombak semua itu. Kondisi fisik yang lemah dan sering sakit sakitan tidak mematahkan semangatnya untuk berkarya.
”Itulah pak likmu nduk...semangatnya tinggi. Dia terus berjuang untuk menghidupi istri dan satu orang anaknya. Dan dia juga harus merawat nenekmu yang sudah tua,  meskipun dia sendiri sakit sakitan. Karena hanya dia yang tinggal satu rumah dengan nenek. Tapi semangatnya yang luar biasa itulah yang harus kita contoh” cerita ibu padaku.
Dan sekarang rumah itu hanya tinggal kenangan. Kakek dan nenekku yang tak lain adalah Rondiyah dan Faozan meninggalkan kami semua anak dan cucu cucunya untuk menghadap Sang Kholiq. Dalam rumah itulah kami anak dan cucu cucunya mengerti tentang kehidupan dan ketenangan hati. Selalu semangat, ikhlas dan menganggap semua yang diberikan oleh Tuhan adalah hadiah bukan ujian. Dua tahun setelah kepergian nenekku, Tuhanpun memanggil pamanku Suryo. Setelah lelah berjuang melawan sakit yang menemani selama hidupnya. Tidak ada yang pernah tahu rencana Tuhan. Keikhlasan nenek dan kakekku dalam menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan, keikhlasan mereka dalam menerima takdir yang diberikan Tuhan terhadap pamanku dan menganggap semua yang diberikan Tuhan adalah hadiah, serta semangat paman Suryo yang sangat luar biasa dalam menjalani kehidupan merupakan pelajaran yang sangat berharga buat kami.

============================================


Sabtu, 22 Maret 2014

Cerita kehidupan



KEMILAU  MUTIARA
Wanita laksana mutiara. Dia akan tampak lebih indah, berkilau karena ada kerang yang melindungi tubuhnya. Lantas seperti apakah mutiara itu jika dia tumbuh tanpa kerang yang melindungi tubuhnya ?
Rumah besar ini memberikan arti sendiri bagiku. Dalam rumah ini aku dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih. Dalam rumah ini aku bisa mengerti tentang arti kehidupan. Kedisiplinan yang diterapkan ayah kepadaku membawaku menuju puncak kebahagiaan. 5 tahun sudah aku meninggalkan semuanya. Aku meninggalkan ayah, ibu dan juga Afika keponakanku yang cantik. Ya..aku harus meninggalkan mereka demi pekerjaanku. Tapi satu yang tidak pernah aku tinggalkan, yaitu cinta kasih  selalu ada untuk mereka orang orang yang aku kasihi.
Hangatnya sinar mentari yang menembus celah jendela kamarku memaksaku untuk membuka mata yang masih terpejam dibalik selimut. Kubuka tirai jendela kamarku. Hembusan angin dipagi hari membuatku ingin menikmati indahnya pagi kota ini.
”Afikaaa !!” teriakku memanggil Afika.
”Iya bunda” jawab Afika yang masih menikmati kenyamanan tempat tidurnya. Segera kubuka selimut yang membungkus tubuhnya.
”Hey !! Anak gadis itu harus bangun pagi dan tidak boleh malas” Kataku pada Afika.
”Bunda ini seperti eyang kakung saja. Apa apa harus tepat waktu. Ini kan hari libur Bunda” jawabnya sambil menarik selimut lagi.
”Kamu lihat penjual bubur depan rumah eyang. Pagi pagi buta dia sudah menyiapkan segala sesuatu untuk meraih rejeki yang masih tergantung diatas sana” kataku.
”Tapi aku bukan penjual bubur bunda” jawabnya bermalasan.
”Iya..tapi kamu harus terbiasa mulai dari sekarang. Suatu saat nanti kamu harus mandiri. Tidak mungkin kamu bergantung pada orang lain terus. Dan di saat kamu harus mandiri, kamu harus disiplin untuk meraih kesuksesan” jelasku.
”Iya...bundaku yang cantik..aku bangun sekarang” katanya sambil menunjukkan gigi mungilnya.
”Nah begitu dong...temani bunda lari pagi yuuukk” ajakku.
”Okey...tapi aku cuci muka dulu ya, dandan dulu biar ada cowok yang melirik. He..he..he” katanya centil sambil berlari ke kamar mandi. Tidak lebih dari 10 menit Afika sudah siap dengan t shirt warna merah jambu dan sepatu olahraga. Hmmm terlihat cantik sekali seperti mamanya.
Sejak kecil dia dekat denganku tak heran jika ia memanggilku dengan sebutan bunda.
“Bunda aku sudah siap nih…let’s go !” katanya sambil berlari kecil. Sisa sisa kabut putih menggelayut di awan menemani kebersamaan kami di pagi ini. Semilirnya hembusan angin dan tetesan embun pagi yang menyapu lembut wajahkupun memberikan kenikmatan yang selama ini kurindukan.
”Bun...kenapa sih bunda kerja di Bali ? jauh banget, Afika kan kangen sama bunda..”kata Afika.
”Cieeee..kangen ya sama bunda ?” godaku..
”Iya...nggak ada yang diajak curhat” katanya manja.
”Kan ada eyang kakung sama eyang putri” kataku.
”Yah..bunda nggak asyik tau” jawabnya manyun.
”Ha..ha...ha” tawaku sambil mengacak rambut Afika yang panjang.
”Ya...karena kerjaan bunda kan sebagai pemandu wisata. Sedangkan daerah yang potensi wisatanya besar itu di Bali” jelasku pada Afika.
”Iya...tapi membuat bunda jarang pulang” jawabnya manyun.
“Okey deh..bunda akan lebih sering pulang, jika dapat cuti”  jawabku.
“Emang kamu mau cerita apa sih ? pacar ?” tebakku.
Dia hanya tersenyum malu.
“Ehhhmmm gadis bunda sudah punya pacar rupanya” godaku.
“Ah..bunda” katanya manja. Itulah kedekatanku dengan Afika keponakanku yang cantik dan imut.
“Eh itu ada penjual nasi uduk. Kita beli yuk” ajakku pada Afika.
Sambil menikmati nasi uduk, Afika bercerita tentang pacarnya. Sesekali aku menggodanya dan tertawa bersama. Rasanya baru kemarin aku mendengar rengekan Afika ketika minta dibacakan dongeng. Tapi kini..Afika kecil yang lincah, lucu dan centil mulai beranjak dewasa dan mengenal cinta.
“Bunda..kenapa melamun ?” tanyanya mengagetkanku.
”Nggak.... bunda hanya ingat, makanan ini kesukaan mama kamu” jawabku.
Seketika keceriaan Afika menjadi sirna. Wajah yang semula penuh warna keceriaan kini berubah menjadi kelabu.
”Afika....maafkan bunda ya...bunda nggak bermaksud membuat kamu sedih” kataku.
”Afika nggak sedih bun...Afika hanya merasa tidak adil saja. Kenapa harus mama Nadia yang menjadi mama Afika dan bukan bunda Aninda yang menjadi mama aku” katanya tertunduk lesu.
”Sayang..” belum selesai aku bicara Afika memotong pembicaraanku.
“Iya aku tahu apa yang akan bunda katakan. Afika, kamu tidak boleh begitu. Iya kan ?” tebak Afika. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
”Sudah siang nih, yuk kita pulang ! Eyang kakung dan eyang putri pasti sudah menunggu kita. Disela sela embun pagi yang menetes di rerumputan, kami berlari kecil sambil sesekali bercanda dan tertawa. Tidak tega rasa hatiku untuk membuat Afika murung. Tapi dia harus tahu tentang kehidupan.  Kebencian dan dendam yang membungkus rapi kalbunya harus terkikis secara perlahan. Afika tidak boleh menanam kebencian yang dalam terhadap seseorang, meskipun hatinya pernah tersakiti. Sesampainya dirumah segera kubersihkan badanku yang penuh dengan keringat. Hmmm rasanya ingin sekali berlama lama di sini. Tapi aku tidak mungkin terlalu lama meninggalkan aktivitasku di Bali.
”Ninda ! Sarapannya sudah siap..kita sarapan dulu yuk !” kata ibu.
” Iya Bu...” Jawabku. Kamipun bersantap bersama. Kebahagiaan yang sudah lama aku nantikan, berkumpul bersama dengan keluarga besar. Tapi ditengah tengah kebersamaan kami, sebenarnya aku merindukan kehadiran Nadia. Namun aku tidak ingin keceriaan di pagi ini berubah menjadi batu sandungan buat kami. Aku tahu ayah masih sakit dengan peristiwa yang terjadi. Tapi aku yakin kerinduan itu pasti ada dihatinya.
Kubuka laci meja tempat aku belajar dulu yang terletak disudut kamar. Kutemukan sebuah album lama yang sampul depannya sudah terlihat kusam. Kubuka lembar lembar berdebu. Tanganku terhenti pada sebuah foto. Kupandangi lama foto itu. Tiba tiba kerinduan itu muncul dalam hatiku. Kerinduan akan hadirnya orangtua kandung selalu mengiringi setiap langkahku. Ya...aku hanyalah anak adopsi. Ayah dan ibu kandungku meninggal karena kecelakaan kereta api. Aku di adopsi oleh om dan tanteku  ketika aku berumur 3 bulan. Waktu itu mereka sangat menginginkan anak perempuan. Perhatian, cinta dan kasih sayang mereka terhadapku sangat besar sekali. Aku sangat beruntung karena merekalah aku bisa bertahan hidup. Meskipun aku adalah anak adopsi, tapi mereka selalu menunjukkan foto itu, dan mengenalkan padaku kalau yang ada dalam foto ini adalah orang tua kandungku.
”Ini foto mama Raisya dan papa Darma” Jawab ibu dengan hati hati.
”Siapa mereka ?” tanyaku tidak mengerti.
”Mereka orang tua Aninda” jawab ibu masih dengan hati hati.
”Bukankah orang tua Aninda ayah dan ibu ?” tanyaku.
”Iya..ayah dan ibu orang tua Aninda, mama Raisya dan papa Darma juga orang tua Aninda” jawab ibu lagi.
”Tapi sekarang mereka sudah ada di surga. Aninda berdoa ya untuk mama dan papa. Agar mereka tenang di sana” kata ibu. Sebenarnya aku tidak mengerti semua yang dikatakan ibu padaku waktu itu. Tapi ibu selalu bercerita padaku, sehingga ketika aku tumbuh, aku bisa memahami semuanya.  Setahun kemudian setelah mengadopsi aku, tanteku yang sekarang aku panggil ibu melahirkan seorang bayi perempuan. Aku sangat senang sekali, karena aku akan mempunyai teman bermain. Seperti halnya aku. Ayah dan ibu sangat bahagia sekali dengan kehadiran Nadia mungil. Ya...bayi itu mereka beri nama Nadia. Mereka sangat menyayanginya. Mereka menganggap aku adalah malaikat keberuntungan untuk mereka. Karena dengan merawat aku, ibu yang semula divonis dokter tidak bisa hamil, tiba tiba saja bisa melahirkan seorang bayi yang cantik. Kami berdua tumbuh dengan cinta dan kasih sayang. Layaknya saudara, aku dan Nadin (panggilanku untuk Nadia) sangat dekat sekali. Masa kecil kami sangat menyenangkan. Kehidupan pada masa kanak kanak seperti kehidupan dongeng yang begitu indah.
”Kakak...yang kenceng dong kalau dorong aku main ayunan. Nggak seru ah!” rengek Nadia waktu itu.
“Jangan, nanti kamu jatuh” jawabku.
”Nggak...aku nggak akan jatuh” Kata Nadia percaya diri.
”Tapi kakak takut Nadin” kataku.
”Iya udah aku main sendiri saja. Kakak terusin lagi aja baca bukunya” katanya dengan cemberut.
”Ya sudah tapi kamu hati hati ya” kataku.
”Iya” jawab Nadia.
Belum selesai satu halaman buku aku baca, terdengar teriakan Nadia.
”Aaaaaa!!!” Buku kulempar dan segera kuberlari ke arah Nadia.
Ya Tuhan Nadia terjatuh dari ayunan.
”Kakak sudah bilang jangan terlalu kencang kalau main ayunan” kataku. Tapi Nadia diam saja. Ternyata dia pingsan. Banyak darah yang keluar dari dahinya. Aku berteriak memanggil ayah dan ibu. Spontan ayah memarahiku karena tidak bisa menjaga Nadia dengan baik. Nadiapun segera dilarikan ke rumah sakit. Aku seperti kehilangan arah saat itu. Aku takut dan sedih. 3 jam aku menunggu dirumah itu bukan waktu yang sebentar. Yang bisa aku lakukan saat itu adalah berdoa, berdoa, dan berdoa. Ditengah tengah rasa takutku, tiba tiba aku merasakan sentuhan lembut di pundakku.
”Kakak !”
”Nadin...kamu tidak apa apa kan?” tanyaku.
”Aku baik baik saja kok” jawabnya.
”Kak...maafin Nadin ya...jika Nadin menuruti nasehat kakak, Nadin pasti tidak akan jatuh. Nadin sayang kakak” katanya sambil memelukku.
”Kakak juga sayang Nadin” jawabku. Bagiku Nadia adalah segalanya. Aku sangat menyayangi dia lebih dari apapun.  Dan saat ini di rumah besar ini, aku merindukan semuanya. Aku merindukan mimpiku yang telah hilang. Namun mimpi itu tak kan pernah ada. Nadia kecil yang aku kenal berubah ketika beranjak remaja. Kesalahpahaman akan arti kedisiplinan dalam rumah ini membawanya menemukan surga kebebasan di luar rumah. Surga yang akhirnya menghancurkannya. Dunia modern dan pergaulan bebas membuat dia lupa akan keluarga.
”Nadia ! Mau jadi apa kamu ? Anak perempuan pulang larut malam. Bau alkohol lagi.” bentak ayah pada Nadia.
“Aku main sama teman teman, Yah… Ayah kuno sih, Aninda juga kuno. Kita ini hidup di dunia modern” bantah Nadia. Rupanya ayah kehilangan kesabaran. Ditamparnya pipi Nadia. Aku berteriak dan memeluk Nadia. Rumah yang semula penuh senyum kebahagiaan kini berubah menjadi beku.
Kubawa Nadia ke kamar, kupeluk erat tubuhnya. Tercium bau alkohol yang menyengat dari mulutnya. Aku tidak ingin dia menganggap kami seisi rumah orang asing baginya. Setidaknya dia mempunyai aku yang masih bisa dijadikan tempat mencurahkan isi hatinya.
”Nadin...kamu dari mana malam malam begini?” tanyaku pelan,
”Itu bukan urusan elo” jawabnya ketus. Aku sempat kaget mendengar jawabannya. Tapi aku berusaha meredam emosiku.
”Ini memang bukan urusan kakak Nadin. Tapi jika terjadi sesuatu pada kamu, akan menjadi urusan kami bersama. Ayah, ibu dan kakak” kataku.
”Kami semua sayang sama kamu Nadin. Kami tidak ingin kamu masuk dalam dunia hitam yang merusak masa depan kamu” kataku waktu itu.
”Ha..ha...ha...masa depan ? Apa yang elo tahu tentang masa depan gue ? elo bukan kakak kandung gue, jadi nggak usah deh ngurusin gue” kata Nadia. Dunia seperti berhenti berputar, kakiku seperti tidak bisa berpijak lagi. Badanku terasa lemas. Aku memang bukan kakak kandungmu Nadin. Tapi rasa sayangku pada kamu dan keluarga ini melebihi semuanya. Kalian adalah matahari untukku. Tanpa adanya kalian aku tidak bisa hidup. Tetesan air mata jatuh di pipiku. Aku tidak bisa menahan lagi. Hatiku seperti kaca yang terlempar batu sehingga pecah berkeping keping.
”Kamu adalah kilauan mutiara yang harus kami jaga. Kami tidak ingin kemilau yang kamu miliki musnah karena berusaha keluar dari dekapan kami ” kataku sambil menyelimuti tubuhnya yang sudah lelap. Dalam hati aku berjanji akan  mengembalikan kepingan kebahagiaan keluarga ini agar menjadi utuh kembali.
Waktu terus bergulir, bunga bunga indah yang selama ini menghiasi kebersamaan kami menjadi duri tajam yang sangat menyakitkan. Setiap hari aku selalu mendengar pertengkarang Nadia dan ayah.
 “Jangan samakan aku dengan Aninda anak emas ayah itu. Aku punya kehidupan sendiri. Aku tidak suka diatur atur” kata Nadia kepada ayah sambil membanting pintu kamar keras sekali. Ya Tuhan...inilah yang membuat Nadia iri terhadapku. Aku tahu bukan maksud ayah membandingkan antara aku dan Nadia. Ayah hanya ingin Nadia menjadi pribadi yang lebih santun dan menjadi kebanggaan keluarga. Saat itu  aku merasa telah merenggut kebahagiaan Nadia. Aku berpikir, jika memang Nadia akan menjadi lebih baik apabila aku harus meninggalkan rumah ini, aku akan melakukannya. Mungkin sudah waktunya bagiku untuk hidup mandiri. Karena ayah dan ibu sudah merawatku dari bayi. Aku tidak ingin membuat beban mereka lagi.
”Jakarta itu keras Ninda, tidak seperti kota ini. Ayah dan ibu tidak ingin gagal yang ke dua kalinya dalam mendidik anak” kata ayah padaku.
”Ayah..Aninda lolos tes pramugari. Aninda yakin Tuhan akan selalu bersama Aninda dan  menjaga Aninda. Aninda sudah dirawat dan dibesarkan ayah dan ibu dengan penuh cinta. Aninda bisa bertahan hidup karena ayah dan ibu” kataku. Ibu memelukku dengan berurai air mata. Kemudian ibu menunjukkan sesuatu pada ayah dari saku bajunya. Aku kaget melihat apa yang ditunjukkan ibu kepada ayah.
“Apa ini ?” tanya ayah kepada ibu. Ibu hanya diam.
”Ibu hamil ?” tanyaku tak percaya. Ibu menggelengkan kepala.
“Ibu berharap ini bukan milik kalian, kamu atau Nadia” kata ibu dengan lesu. Deg ! Mulutku tiba tiba menjadi kelu dan bisu. Aku tidak bisa berkata apa apa. Apa mungkin tes pack itu milik Nadia ? Ya... Tuhan disela sela kebahagiaan kami, muncul masalah yang membuat  ayah dan ibu sedih lagi.
Malam semakin larut, suara jengkerik malam semakin syahdu. Kupandang jam dinding yang tergantung diatas tempat tidurku. Sudah pukul 1 dini hari. Mata sudah berat rasanya tapi tak kunjung terpejam. Ragaku terbaring ditempat tidur tapi hati dan pikiranku mencari keberadaan Nadia. Tak lama kemudian pintu kamar perlahan terbuka, segera aku turun dari tempat tidur dan kunyalakan lampu.
”Belum tidur ?” tanya Nadia kaget. Aku hanya menggelengkan kepala. Tanpa berkata apa apa, dia segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Sambil berbaring disampingnya , aku bertanya pada Nadia.
”Nadin...selama ini kamu berteman dengan siapa saja ?” tanyaku.
”Kenapa ? elo pengen kenal sama teman teman gue ?” tanya Nadia balik padaku.
”Nggak..aku hanya ingin tahu saja dengan siapa kamu berteman. Selama ini kamu tidak pernah cerita sama aku” kataku.
”Buat apa gue cerita sama elo. Diceritain pasti juga nggak akan nyambung. Teman teman gue modern semua. Elo nggak bakalan ngerti” jawab Nadia ketus.
”Nadin...ini milik kamu ?” tanyaku sambil menunjukkan tes pack yang ditemukan ibu tadi. Nadia tidak menjawab.
”Nadin, aku bertanya sama kamu. Kalau memang iya, jangan bilang kamu akan menggugurkan kandungan kamu. Jawab Nadin” kataku pada Nadia.
”Iya...” jawabnya.
”Dan ini..obat obatan untuk menggugurkan janin kamu ?” tanyaku. Aku menemukan obat obatan di laci meja Nadia. Nadia tidak menjawab.
”Nadia...tolong Nadia jangan sekali sekali kamu membunuh janin itu. Itu anak kamu. Dia tidak berdosa” jawabku.
”Elo berkata seperti itu karena elo tidak mengalami seperti gue. Gue nggak mau hamil, kehadiran bayi ini mengganggu gue. Gue nggak bisa have fun. Dan gue akan kehilangan surga gue”.
”Istighfar Nadin..seorang bayi itu laksana matahari buat kita. Didalam jiwanya terdapat sinar ketulusan yang memberi kehangatan apabila kita bisa melihatnya dengan kasih sayang. Okey jika kamu tidak mau merawat anak kamu. Aku dan ibu akan merawatnya sampai dia besar.” bujukku pada Nadia. Aku berharap semoga bayi Nadia bisa memberikan cahaya dalam rumah ini dan bisa mengembalikan kebersamaan kami yang sudah lama hilang oleh kegelapan. Bayi itu adalah Afika. Afika cantik dan lucu mampu mengembalikan kebersamaan kami kembali. Walaupun Nadia bersikap acuh pada Afika, tapi aku yakin naluri seorang ibu pasti akan muncul dihatinya.
Seiring bersamanya waktu Afika mungil tumbuh menjadi gadis cilik yang lucu, lincah dan selalu ceria. Namun ketika cacian dan hinaan mulai datang mendera, saat itulah rona keceriaan berubah menjadi awan kelabu. Yach...Afika kecil menjadi anak yang pemurung dan pendiam. Kudekati wajahnya yang lugu nan sendu, kupeluk dan kubelai lembut rambutnya yang panjang terurai. Diam tak bergeming sedikitpun, namun telapak tanganku terasa basah oleh tetesan air mata yang jatuh dari sudut matanya. Kupeluk erat tubuh mungil itu. Ada rasa rindu dalam hatiku. Rindu akan keceriaan diwajah lucunya.
”Afika ikut bunda yuk” ajakku. Dia hanya menggeleng.
”Ayolah temani bunda jalan jalan. Kita kan sudah lama tidak jalan jalan. Afika tidak kangen ?” tanyaku.
”Kemana ?” tanyanya.
”Ada saja” jawabku.
Teriknya sinar matahari kian meranggas pepohonan. Daun daun keringpun berjatuhan, terbang terbawa hembusan angin mengiringi kepergian kami. Raut suram dan sendu masih menghiasi wajah ayu  Afika. Segera kupercepat laju mobilku. Dan akhirnya kami sampai disebuah rumah sederhana dengan halaman yang lumayan luas dan tampak asri dengan aneka pepohonan dan bunga.
”Bunda..ini tempat apa ?” tanya Afika padaku. Aku hanya menjawab pertanyaan Afika dengan senyuman. Segera kami turun dari mobil. Belum sampai aku mengetuk pintu, teriakan anak anak sudah  menyambut kedatangan kami.
”Kakak Aninda ! Kakak kok nggak pernah main kesini lagi” tanya salah seorang dari mereka.
”Iya..sayang kakak kerja di Jakarta” jawabku.
”Oh ya...kenalkan ini keponakan kakak. Namanya Afika” lanjutku.  Afikapun berkenalan dengan mereka. Aku berharap dengan mengajak Afika ke panti asuhan ini, bisa mengembalikan keceriaannya. Aku sering menyisihkan penghasilanku dari menulis untuk panti ini. Maka tak heran jika anak anak disini mengenalku.
”Afika yuk kita main ” kata Rani salah satu anak panti. Afika menggelengkan kepala dan masih menggelayutkan tangannya dipinggangku.
”Oh ya sudah..nanti saja mainnya ya..mungkin kamu masih capek” kata Rani.
”Afika, kamu lihat banyak anak seusiamu disini. Mereka semua disini tidak mempunyai orangtua, bahkan saudara. Mereka semua disini dididik oleh ibu panti. Anak anak itu mendapatkan dekapan cinta dan kasih sayang disini. Bahkan ada yang dibuang oleh orangtuanya ketika masih bayi, karena tidak dikehendaki kehadirannya” kataku menjelaskan.
”Lalu mengapa mereka semua ada disini ?” tanyanya.
”Untuk mendapatkan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orangtua atau saudara mereka. Kamu beruntung Afika. Kamu masih mempunyai eyang kakung, eyang putri, bunda Aninda serta mama Nadia, yang menyayangimu. Yach..meskipun mama Nadia terlihat tidak peduli sama kamu, tapi sebenarnya dia sangat sayang sama kamu. Dia menyayangimu dengan caranya sendiri” jelasku. Terlihat Afika termenung dengan penjelasanku.
“Kamu lihat mereka semua tetap ceria kan. meskipun tidak mempunyai keluarga ? Kita semua harus tetap menjalani hidup kita dengan semanga,t karena Tuhan selalu bersama kita. Kamu tidak boleh sedih dengan ejekan teman temanmu. Karena masih ada Tuhan yang memberikan cintaNya untuk kita” jelasku.
”Bunda, Afika mau main sama mereka” kata Afika. Seketika rona keceriaan muncul kembali di wajahnya. Ya Tuhan...lindungilah dia, jangan pernah Kau biarkan dia lepas dari dekapanMu.
Kubuka lembar terakhir album itu. Kutatap foto seorang gadis dengan seragam pramugari tampak begitu anggun dan elegan. Ku melihat diriku ada dalam foto itu. 17 tahun lalu saat asa dan cita masih tergantung  diawan, akupun berusaha meraihnya, menggenggamya kuat namun akhirnya berubah menjadi butiran pasir yang hilang tak berwujud. Lagi lagi Nadia menghancurkan segala asa, cita, dan cintaku. Kebahagiaanku akan cinta hilang setelah pertunanganku dengan Pandu. Runtuh jiwa dan hatiku saat melihat kebersamaan Pandu dan Nadia. Pelangi yang baru saja tercipta luruh oleh hujan dan badai. Saat itulah aku memutuskan berhenti dari pramugari. Kutak bisa berkarya dengan pilot yang menghianati cintaku. Satu tahun aku bertahan hidup di kota Jakarta hanya dengan menulis di sebuah majalah. Aku yakin ada kebaikan untukku dibalik semuanya. Sampai suatu ketika agency pemandu wisata menerimaku untuk menjadi pemandu wisata di Bali. Ini adalah berkah yang luar biasa untukku. Pekerjaan itulah yang kini menemani hidupku. Dan saat ini sinar kerinduan ada untuk Nadia. Cintaku padanya mengalahkan kebencian yang pernah ada. Namun dia takkan pernah ada di dunia ini lagi. HIV mengalahkan semuanya. Surga yang dia puja, kebebasan yang disembahnya menghancurkan kehidupannya. Aku tidak ingin Afika mengalami semua ini. Tak terasa air mata membasahi pipiku. Air mata kerinduan dan kebahagiaan karena Afika kini tumbuh menjadi gadis yang santun, cerdas dan dia adalah calon pengacara.
”Mama !” Suara kecil itu mengagetkanku. Ternyata Sahira putri kecilku, yang disusul Afika dibelakangnya.  Dia menyusulku dari Bali rupanya. Sinar kerinduan terpancar dari bola matanya yang bulat. Dia adalah buah cintaku dengan mas Angga, dokter yang menangani kasus Nadia. Ya…semua ini adalah rencana Tuhan yang memberikan anugerah terindah dalam hidupku. Kupeluk kedua mutiara cintaku dengan penuh kasih. Afika dan Sahira. Kutak ingin keindahan kemilaunya pudar karena setitik noda yang akan merusak segalanya. Keindahan dari hati itu laksana kilauan mutiara yang memberikan kecantikan abadi bagi pemakainya

Mutiara yang tumbuh di dasar laut lebih indah dan lebih berharga daraipada bunga yang tumbuh di tepi jalan.


KEDAMAIAN HATI SUMBER KEBAHAGIAAN


Kehidupan di dunia ini penuh dengan warna. Demikian juga dengan sifat manusia. Perasaan iri, benci, ingin dipuja adalah sifat yang dimiliki oleh manusia. Lantas apa yang menjadi tujuan utama manusia hidup di dunia ini ? Apakah berlomba-lomba untuk mengumpulkan kekayaan dan kekuasaan ? Pada umumnya orang dipuja hanya karena pangkat dan derajatnya.
Aku mempunyai seorang teman. Dia bernama Rani (tidak nama sebenarnya). Dia berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya adalah salah seorang pejabat di daerahku. Sedangkan ibunya sebagai istri seorang pejabat tentunya sangat aktif dalam berbagai macam organisasi. Semula aku berpikir sangat enak dan nyaman sekali menjadi Rani. Semua serba ada, dan sangat mudah sekali jika menginginkan segala sesuatu. Sekolah selalu antar jemput mobil mewah. Tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Ingin udara sejuk tinggal menyalakan AC di kamar. Sama sekali tidak pernah merasakan kekurangan sedikitpun. Rasanya kebahagiaan itu selalu ada untuk dia. Tapi aku tidak pernah melihat keceriaan yang muncul di wajahnya. Tidak pernah ada senyuman yang tulus dari hatinya. Lain halnya dengan Andi (bukan nama sebenarnya) anak tetanggaku. Andi berasal dari keluarga sederhana yang ekonominya pas-pasan. Ayahnya hanya seorang penjaga sekolah, sedangkan ibunya pembantu rumah tangga. Tapi aku selalu melihat rona kegembiraan pada wajah mereka. Seolah-olah tidak pernah ada masalah apapun dalam keluarga mereka. Demikian juga dengan Andi. Dia selalu ramah dengan semua orang, selalu ceria setiap berangkat sekolah walau dengan sepatu yang penuh jahitan. Seakan-akan dia tidak peduli dengan keadaan dirinya. Padahal aku tahu untuk bisa makan sehari-haripun mereka sudah senang walaupun itu hanya dengan sambal saja. Suatu kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan Rani yang berasal dari keluarga kaya.
Suatu hari Rani bermain ke rumahku. Dia memang sahabat dekatku. Seperti biasa tidak tampak rona kegembiraan pada wajahnya. Meskipun dia sahabat dekatku, dia tidak pernah menceritakan sedikitpun tentang keluarganya. Sehingga aku merasa semua kehidupan yang dijalaninya sangatlah indah sekali karena semua serba ada. Dia memandangi foto keluargaku yang tergantung didinding. Foto ayah, ibuku, aku dan adikku. Dia memandangi foto itu sangat lama sekali. Memang ada perbedaan antara ayah, ibuku juga adikku dengan papa serta mamanya. Setiap kali dia main kerumahku, selalu disambut oleh ayah dan ibuku serta kejahilan-kejahilan adikku. Lain halnya kalau aku main ke rumah dia. Rumah itu bagiku sangatlah sunyi sekali. Aku tidak pernah bertemu dengan orang tuanya Rani. Pernah suatu hari Rani berkata padaku, kalau dia iri terhadap aku. Aku tak mengerti apa yang membuat Rani iri terhadapku. Sepertinya aku nggak pantas untuk diiri. Dari segi ekonomi, jelas aku kalah besar dibanding dia yang anak pejabat. Dari segi fisik, dia juga jauh lebih cantik dari aku. Lantas apa yang membuat dia iri padaku ? Suatu pertanyaan yang aku belum mengerti jawabannya.
Suatu hari aku akan mengembalikan buku yang kupinjam ke rumah Rani. Sebuah rumah mewah, berpagar tinggi, di jaga oleh satpam, dan di depan rumah terparkir dua buah mobil mewah. Suasana yang jaauuuhhh berbeda dengan kehidupanku dan keluarga Andi tetanggaku. Dengan melihat rumah semewah itu rasanya aku ingin sekali tinggal di dalamnya. Aku berpikir pasti dengan kehidupan yang serba ada seperti Rani pastilah sangat bahagia dan nyaman. Ketika aku masih terbuai dengan lamunanku, aku mendengar pintu kamar dibanting sangat keras sekali. Kemudian ayah Rani keluar dari rumah mewah itu dengan tidak menghiraukan kehadiranku sama sekali. Tak lama kemudian disusul mamanya Rani dengan sikap yang sama, tidak peduli dengan kehadiranku. Mereka naik mobil sendiri-sendiri. Suasana yang tidak pernah kutemui sama sekali di rumahku. Dari situlah aku tahu mengapa Rani lebih betah di rumahku, dan dia merasa iri dengan aku. Sungguh sayang sekali rumah semewah ini terasa kering, karena tidak ada penyejuk yang memberikan kesegaran didalamnya. Lain dengan keluarganya Andi yang penuh kesederhanaan. Tapi dari bibir  mereka selalu tersungging senyum manis yang memberikan kesejukan setiap insan yang menerimanya. Dari semua yang aku lihat, aku bisa mengerti bahwa kedamaian hati jauh lebih utama dari segala apapun yang ada didunia ini. Tujuan manusia hidup didunia ini adalah mengabdi untuk masa depan. Mengabdi dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan atau balas jasa untuk mendapatkan masa depan yang abadi, yaitu ketenangan dan kedamaian hati. Bersyukur atas nikmat yang ada, tidak ngoyo, tidak pernah iri atas kesuksesan yang dicapai orang lain. Karena setiap orang pasti akan sukses, tergantung bagaimana cara kita menggapai kesuksesan yang masih tergantung di atas sana. Pujian karena harta, kekayaan, pangkat dan derajat sangatlah tidak berarti sama sekali. Karena kebahagiaan yang utama adalah kedamaian dan ketenangan hati. Sikap rendah diri dan selalu tersenyum dengan setiap orang yang kita kenal akan menciptakan suasana yang indah dalam kehidupan. Senyum terhadap orang lain adalah ibadah, karena memberikan ketenangan bagi yang melihatnya.