KEMILAU MUTIARA
Wanita
laksana mutiara. Dia akan tampak lebih indah, berkilau karena ada kerang yang
melindungi tubuhnya. Lantas seperti apakah mutiara itu jika dia tumbuh tanpa
kerang yang melindungi tubuhnya ?
Rumah besar ini memberikan
arti sendiri bagiku. Dalam rumah ini aku dibesarkan dengan penuh cinta dan
kasih. Dalam rumah ini aku bisa mengerti tentang arti kehidupan. Kedisiplinan
yang diterapkan ayah kepadaku membawaku menuju puncak kebahagiaan. 5 tahun
sudah aku meninggalkan semuanya. Aku meninggalkan ayah, ibu dan juga Afika keponakanku
yang cantik. Ya..aku harus meninggalkan mereka demi pekerjaanku. Tapi satu yang
tidak pernah aku tinggalkan, yaitu cinta kasih selalu ada untuk mereka orang orang yang aku
kasihi.
Hangatnya sinar mentari yang
menembus celah jendela kamarku memaksaku untuk membuka mata yang masih terpejam
dibalik selimut. Kubuka tirai jendela kamarku. Hembusan angin dipagi hari
membuatku ingin menikmati indahnya pagi kota ini.
”Afikaaa !!” teriakku
memanggil Afika.
”Iya bunda” jawab Afika yang
masih menikmati kenyamanan tempat tidurnya. Segera kubuka selimut yang
membungkus tubuhnya.
”Hey !! Anak gadis itu harus bangun pagi dan tidak boleh malas” Kataku pada Afika.
”Bunda ini seperti eyang
kakung saja. Apa apa harus tepat waktu. Ini kan hari libur Bunda” jawabnya
sambil menarik selimut lagi.
”Kamu lihat penjual bubur depan rumah eyang. Pagi pagi buta dia sudah menyiapkan segala
sesuatu untuk meraih rejeki yang masih tergantung diatas sana” kataku.
”Tapi aku bukan penjual bubur
bunda” jawabnya bermalasan.
”Iya..tapi kamu harus terbiasa
mulai dari sekarang. Suatu saat nanti kamu harus mandiri. Tidak mungkin kamu
bergantung pada orang lain terus. Dan di saat kamu harus mandiri, kamu harus
disiplin untuk meraih kesuksesan” jelasku.
”Iya...bundaku yang
cantik..aku bangun sekarang” katanya sambil menunjukkan gigi mungilnya.
”Nah begitu dong...temani
bunda lari pagi yuuukk” ajakku.
”Okey...tapi aku cuci muka
dulu ya, dandan dulu biar ada cowok yang melirik. He..he..he” katanya centil
sambil berlari ke kamar mandi. Tidak lebih dari 10 menit Afika sudah siap
dengan t shirt warna merah jambu dan sepatu olahraga. Hmmm terlihat cantik
sekali seperti mamanya.
Sejak kecil dia dekat denganku
tak heran jika ia memanggilku dengan sebutan bunda.
“Bunda aku sudah siap nih…let’s go !” katanya sambil
berlari kecil. Sisa sisa
kabut putih menggelayut di awan menemani kebersamaan kami di pagi ini.
Semilirnya hembusan angin dan tetesan embun pagi yang menyapu lembut wajahkupun
memberikan kenikmatan yang selama ini kurindukan.
”Bun...kenapa sih bunda kerja
di Bali ? jauh banget, Afika kan kangen sama bunda..”kata Afika.
”Cieeee..kangen ya sama bunda
?” godaku..
”Iya...nggak ada yang diajak
curhat” katanya manja.
”Kan ada eyang kakung sama
eyang putri” kataku.
”Yah..bunda nggak asyik tau”
jawabnya manyun.
”Ha..ha...ha” tawaku sambil
mengacak rambut Afika yang panjang.
”Ya...karena kerjaan bunda kan
sebagai pemandu wisata. Sedangkan daerah yang potensi wisatanya besar itu di Bali”
jelasku pada Afika.
”Iya...tapi membuat bunda jarang pulang” jawabnya
manyun.
“Okey deh..bunda akan lebih sering pulang, jika dapat
cuti” jawabku.
“Emang kamu mau cerita apa sih ? pacar ?” tebakku.
Dia hanya tersenyum malu.
“Ehhhmmm gadis bunda sudah punya pacar rupanya” godaku.
“Ah..bunda” katanya manja. Itulah kedekatanku dengan
Afika keponakanku yang cantik dan imut.
“Eh itu ada penjual nasi uduk.
Kita beli yuk” ajakku pada Afika.
Sambil menikmati nasi uduk, Afika bercerita tentang
pacarnya. Sesekali aku menggodanya dan tertawa bersama. Rasanya baru kemarin aku mendengar rengekan Afika
ketika minta dibacakan dongeng. Tapi kini..Afika kecil
yang lincah, lucu dan centil mulai beranjak dewasa dan mengenal cinta.
“Bunda..kenapa melamun ?”
tanyanya mengagetkanku.
”Nggak.... bunda hanya ingat,
makanan ini kesukaan mama kamu” jawabku.
Seketika keceriaan Afika
menjadi sirna. Wajah yang semula penuh warna keceriaan kini berubah menjadi
kelabu.
”Afika....maafkan bunda
ya...bunda nggak bermaksud membuat kamu sedih” kataku.
”Afika nggak sedih bun...Afika
hanya merasa tidak adil saja. Kenapa harus mama Nadia yang menjadi mama Afika
dan bukan bunda Aninda yang menjadi mama aku” katanya tertunduk lesu.
”Sayang..” belum selesai aku bicara Afika memotong
pembicaraanku.
“Iya aku tahu apa yang akan
bunda katakan. Afika, kamu tidak boleh begitu. Iya kan ?” tebak Afika. Aku
hanya tersenyum dan mengangguk.
”Sudah siang nih, yuk kita pulang ! Eyang kakung dan eyang putri pasti sudah
menunggu kita. Disela sela embun pagi yang menetes di rerumputan, kami berlari
kecil sambil sesekali bercanda dan tertawa. Tidak tega rasa hatiku untuk
membuat Afika murung. Tapi dia harus tahu tentang
kehidupan. Kebencian dan dendam yang
membungkus rapi kalbunya harus terkikis secara perlahan. Afika tidak boleh
menanam kebencian yang dalam terhadap seseorang, meskipun hatinya pernah
tersakiti. Sesampainya dirumah segera kubersihkan badanku yang penuh dengan
keringat. Hmmm rasanya ingin
sekali berlama lama di sini. Tapi aku tidak mungkin terlalu lama meninggalkan aktivitasku
di Bali.
”Ninda ! Sarapannya sudah siap..kita
sarapan dulu yuk !” kata ibu.
” Iya Bu...” Jawabku. Kamipun
bersantap bersama. Kebahagiaan yang sudah lama aku nantikan, berkumpul bersama
dengan keluarga besar. Tapi ditengah tengah kebersamaan kami, sebenarnya aku
merindukan kehadiran Nadia. Namun aku tidak ingin keceriaan di pagi ini berubah
menjadi batu sandungan buat kami. Aku tahu ayah masih sakit dengan peristiwa
yang terjadi. Tapi aku yakin kerinduan itu pasti ada dihatinya.
Kubuka laci meja tempat aku
belajar dulu yang terletak disudut kamar. Kutemukan sebuah album lama yang sampul
depannya sudah terlihat kusam. Kubuka lembar lembar berdebu. Tanganku terhenti pada
sebuah foto. Kupandangi lama foto itu. Tiba tiba kerinduan itu muncul dalam
hatiku. Kerinduan akan hadirnya orangtua kandung selalu mengiringi setiap
langkahku. Ya...aku hanyalah anak adopsi. Ayah dan ibu kandungku meninggal
karena kecelakaan kereta api. Aku di adopsi oleh om dan tanteku ketika aku berumur 3 bulan. Waktu itu mereka
sangat menginginkan anak perempuan. Perhatian, cinta dan kasih sayang mereka
terhadapku sangat besar sekali. Aku sangat beruntung karena merekalah aku bisa
bertahan hidup. Meskipun aku adalah anak adopsi, tapi mereka selalu menunjukkan
foto itu, dan mengenalkan padaku kalau yang ada dalam foto ini adalah orang tua
kandungku.
”Ini foto mama Raisya dan papa
Darma” Jawab ibu dengan hati hati.
”Siapa mereka ?” tanyaku tidak
mengerti.
”Mereka orang tua Aninda”
jawab ibu masih dengan hati hati.
”Bukankah orang tua Aninda
ayah dan ibu ?” tanyaku.
”Iya..ayah dan ibu orang tua
Aninda, mama Raisya dan papa Darma juga orang tua Aninda” jawab ibu lagi.
”Tapi sekarang mereka sudah
ada di surga. Aninda berdoa ya untuk mama dan papa. Agar mereka tenang di sana”
kata ibu. Sebenarnya aku tidak mengerti semua yang dikatakan ibu padaku waktu
itu. Tapi ibu selalu bercerita padaku, sehingga ketika aku tumbuh, aku bisa
memahami semuanya. Setahun kemudian
setelah mengadopsi aku, tanteku yang sekarang aku panggil ibu melahirkan
seorang bayi perempuan. Aku sangat senang sekali, karena aku akan mempunyai
teman bermain. Seperti halnya aku. Ayah dan ibu sangat bahagia sekali dengan
kehadiran Nadia mungil. Ya...bayi itu mereka beri nama Nadia. Mereka sangat
menyayanginya. Mereka menganggap aku adalah malaikat keberuntungan untuk
mereka. Karena dengan merawat aku, ibu yang semula divonis dokter tidak bisa
hamil, tiba tiba saja bisa melahirkan seorang bayi yang cantik. Kami berdua tumbuh dengan cinta dan kasih sayang. Layaknya saudara, aku dan Nadin (panggilanku
untuk Nadia) sangat dekat sekali. Masa kecil kami sangat menyenangkan. Kehidupan
pada masa kanak kanak seperti kehidupan dongeng yang begitu indah.
”Kakak...yang kenceng dong
kalau dorong aku main ayunan. Nggak seru ah!” rengek
Nadia waktu itu.
“Jangan, nanti kamu jatuh”
jawabku.
”Nggak...aku nggak akan jatuh”
Kata Nadia percaya diri.
”Tapi kakak takut Nadin”
kataku.
”Iya udah aku main sendiri
saja. Kakak terusin lagi aja baca bukunya” katanya dengan cemberut.
”Ya sudah tapi kamu hati hati
ya” kataku.
”Iya” jawab Nadia.
Belum selesai satu halaman
buku aku baca, terdengar teriakan Nadia.
”Aaaaaa!!!” Buku kulempar dan
segera kuberlari ke arah Nadia.
Ya Tuhan Nadia terjatuh dari ayunan.
”Kakak sudah bilang jangan
terlalu kencang kalau main ayunan” kataku. Tapi Nadia diam saja. Ternyata dia pingsan.
Banyak darah yang keluar dari dahinya. Aku berteriak memanggil ayah dan ibu. Spontan
ayah memarahiku karena tidak bisa menjaga Nadia dengan baik. Nadiapun segera
dilarikan ke rumah sakit. Aku seperti kehilangan arah saat itu. Aku takut dan
sedih. 3 jam aku menunggu dirumah itu bukan waktu yang sebentar. Yang bisa aku
lakukan saat itu adalah berdoa, berdoa, dan berdoa. Ditengah tengah rasa
takutku, tiba tiba aku merasakan sentuhan lembut di pundakku.
”Kakak !”
”Nadin...kamu tidak apa apa
kan?” tanyaku.
”Aku baik baik saja kok”
jawabnya.
”Kak...maafin Nadin ya...jika
Nadin menuruti nasehat kakak, Nadin pasti tidak akan jatuh. Nadin sayang kakak”
katanya sambil memelukku.
”Kakak juga sayang Nadin” jawabku. Bagiku Nadia adalah segalanya. Aku sangat menyayangi
dia lebih dari apapun. Dan saat ini di
rumah besar ini, aku merindukan semuanya. Aku merindukan mimpiku yang telah
hilang. Namun mimpi itu tak kan pernah ada. Nadia kecil yang aku kenal berubah
ketika beranjak remaja. Kesalahpahaman akan arti kedisiplinan dalam rumah ini
membawanya menemukan surga kebebasan di luar rumah. Surga yang akhirnya
menghancurkannya. Dunia modern dan pergaulan bebas membuat dia lupa akan
keluarga.
”Nadia ! Mau jadi apa kamu ? Anak
perempuan pulang larut malam. Bau alkohol lagi.” bentak ayah pada Nadia.
“Aku main sama teman teman,
Yah… Ayah kuno sih, Aninda juga kuno. Kita ini hidup di dunia modern” bantah
Nadia. Rupanya ayah kehilangan kesabaran. Ditamparnya pipi Nadia. Aku berteriak
dan memeluk Nadia. Rumah yang semula penuh senyum kebahagiaan kini berubah
menjadi beku.
Kubawa Nadia ke kamar, kupeluk
erat tubuhnya. Tercium bau alkohol yang menyengat dari mulutnya. Aku tidak
ingin dia menganggap kami seisi rumah orang asing baginya. Setidaknya dia mempunyai
aku yang masih bisa dijadikan tempat mencurahkan isi hatinya.
”Nadin...kamu dari mana malam
malam begini?” tanyaku pelan,
”Itu bukan urusan elo”
jawabnya ketus. Aku sempat kaget mendengar jawabannya. Tapi aku berusaha
meredam emosiku.
”Ini memang bukan urusan kakak
Nadin. Tapi jika terjadi sesuatu pada kamu, akan menjadi urusan kami bersama. Ayah,
ibu dan kakak” kataku.
”Kami semua sayang sama kamu
Nadin. Kami tidak ingin kamu masuk dalam dunia hitam yang merusak masa depan
kamu” kataku waktu itu.
”Ha..ha...ha...masa depan ? Apa yang elo tahu tentang
masa depan gue ? elo bukan kakak kandung gue, jadi nggak usah deh ngurusin gue”
kata Nadia. Dunia seperti
berhenti berputar, kakiku seperti tidak bisa berpijak lagi. Badanku terasa lemas. Aku memang bukan kakak kandungmu Nadin. Tapi
rasa sayangku pada kamu dan keluarga ini melebihi semuanya. Kalian adalah
matahari untukku. Tanpa adanya kalian aku tidak bisa hidup. Tetesan air mata jatuh di pipiku. Aku
tidak bisa menahan lagi. Hatiku seperti kaca yang
terlempar batu sehingga pecah berkeping keping.
”Kamu adalah kilauan mutiara
yang harus kami jaga. Kami tidak ingin kemilau yang kamu miliki musnah karena berusaha
keluar dari dekapan kami ” kataku sambil menyelimuti tubuhnya yang sudah lelap.
Dalam hati aku berjanji akan mengembalikan kepingan kebahagiaan keluarga
ini agar menjadi utuh kembali.
Waktu terus bergulir, bunga bunga indah yang selama ini
menghiasi kebersamaan kami menjadi duri tajam yang sangat menyakitkan. Setiap
hari aku selalu mendengar pertengkarang Nadia dan ayah.
“Jangan samakan aku dengan Aninda anak emas
ayah itu. Aku punya kehidupan sendiri. Aku tidak suka diatur atur” kata Nadia
kepada ayah sambil membanting pintu kamar keras sekali. Ya Tuhan...inilah yang
membuat Nadia iri terhadapku. Aku tahu bukan maksud ayah membandingkan antara
aku dan Nadia. Ayah hanya ingin Nadia menjadi pribadi yang lebih santun dan
menjadi kebanggaan keluarga. Saat itu aku merasa telah merenggut kebahagiaan Nadia.
Aku berpikir, jika memang Nadia akan menjadi lebih baik apabila aku harus
meninggalkan rumah ini, aku akan melakukannya. Mungkin sudah waktunya bagiku
untuk hidup mandiri. Karena ayah dan ibu sudah merawatku dari bayi. Aku tidak
ingin membuat beban mereka lagi.
”Jakarta itu keras Ninda, tidak
seperti kota ini. Ayah dan ibu tidak ingin gagal yang ke dua kalinya dalam
mendidik anak” kata ayah padaku.
”Ayah..Aninda lolos tes pramugari.
Aninda yakin Tuhan akan selalu bersama Aninda dan menjaga Aninda. Aninda
sudah dirawat dan dibesarkan ayah dan ibu dengan penuh cinta. Aninda bisa
bertahan hidup karena ayah dan ibu” kataku. Ibu memelukku dengan berurai air
mata. Kemudian ibu
menunjukkan sesuatu pada ayah dari saku bajunya. Aku kaget melihat apa yang
ditunjukkan ibu kepada ayah.
“Apa ini ?” tanya ayah kepada
ibu. Ibu hanya diam.
”Ibu hamil ?” tanyaku tak percaya. Ibu menggelengkan kepala.
“Ibu berharap ini bukan milik
kalian, kamu atau Nadia” kata ibu dengan lesu. Deg ! Mulutku tiba tiba menjadi
kelu dan bisu. Aku tidak bisa berkata apa apa. Apa mungkin tes pack itu milik
Nadia ? Ya... Tuhan disela sela kebahagiaan kami, muncul masalah yang membuat ayah dan ibu sedih lagi.
Malam semakin larut, suara
jengkerik malam semakin syahdu. Kupandang jam dinding
yang tergantung diatas tempat tidurku. Sudah pukul 1 dini hari. Mata sudah
berat rasanya tapi tak kunjung terpejam. Ragaku terbaring ditempat tidur tapi hati
dan pikiranku mencari keberadaan Nadia. Tak lama kemudian pintu kamar perlahan terbuka, segera aku turun dari
tempat tidur dan kunyalakan lampu.
”Belum tidur ?” tanya Nadia kaget. Aku hanya menggelengkan kepala. Tanpa berkata apa
apa, dia segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Sambil berbaring disampingnya
, aku bertanya pada Nadia.
”Nadin...selama ini kamu
berteman dengan siapa saja ?” tanyaku.
”Kenapa ? elo pengen kenal
sama teman teman gue ?” tanya Nadia balik padaku.
”Nggak..aku hanya ingin tahu
saja dengan siapa kamu berteman. Selama ini kamu tidak pernah cerita sama aku”
kataku.
”Buat apa gue cerita sama elo.
Diceritain pasti juga nggak akan nyambung. Teman teman gue modern semua. Elo
nggak bakalan ngerti” jawab Nadia ketus.
”Nadin...ini milik kamu ?”
tanyaku sambil menunjukkan tes pack yang ditemukan ibu tadi. Nadia tidak
menjawab.
”Nadin, aku bertanya sama
kamu. Kalau memang iya, jangan bilang kamu akan menggugurkan kandungan kamu.
Jawab Nadin” kataku pada Nadia.
”Iya...” jawabnya.
”Dan ini..obat obatan untuk
menggugurkan janin kamu ?” tanyaku. Aku menemukan obat obatan di laci meja
Nadia. Nadia tidak menjawab.
”Nadia...tolong Nadia jangan
sekali sekali kamu membunuh janin itu. Itu anak kamu. Dia tidak berdosa”
jawabku.
”Elo berkata seperti itu
karena elo tidak mengalami seperti gue. Gue nggak mau
hamil, kehadiran bayi ini mengganggu gue. Gue nggak bisa have fun. Dan gue akan kehilangan surga gue”.
”Istighfar Nadin..seorang bayi
itu laksana matahari buat kita. Didalam jiwanya terdapat sinar ketulusan yang
memberi kehangatan apabila kita bisa melihatnya dengan kasih sayang. Okey jika
kamu tidak mau merawat anak kamu. Aku dan ibu akan merawatnya sampai dia
besar.” bujukku pada Nadia. Aku berharap semoga bayi Nadia bisa memberikan
cahaya dalam rumah ini dan bisa mengembalikan kebersamaan kami yang sudah lama
hilang oleh kegelapan. Bayi itu adalah Afika. Afika cantik dan lucu mampu mengembalikan
kebersamaan kami kembali. Walaupun Nadia bersikap acuh pada Afika, tapi aku
yakin naluri seorang ibu pasti akan muncul dihatinya.
Seiring
bersamanya waktu Afika mungil tumbuh menjadi gadis cilik yang lucu, lincah dan
selalu ceria. Namun ketika cacian dan hinaan mulai datang mendera, saat itulah
rona keceriaan berubah menjadi awan kelabu. Yach...Afika kecil menjadi anak
yang pemurung dan pendiam. Kudekati wajahnya yang lugu nan sendu, kupeluk dan
kubelai lembut rambutnya yang panjang terurai. Diam tak bergeming sedikitpun,
namun telapak tanganku terasa basah oleh tetesan air mata yang jatuh dari sudut
matanya. Kupeluk erat tubuh mungil itu. Ada rasa rindu dalam hatiku. Rindu akan
keceriaan diwajah lucunya.
”Afika ikut
bunda yuk” ajakku. Dia hanya menggeleng.
”Ayolah
temani bunda jalan jalan. Kita kan sudah lama tidak jalan jalan. Afika tidak
kangen ?” tanyaku.
”Kemana ?”
tanyanya.
”Ada saja”
jawabku.
Teriknya
sinar matahari kian meranggas pepohonan. Daun daun keringpun berjatuhan, terbang
terbawa hembusan angin mengiringi kepergian kami. Raut suram dan sendu masih
menghiasi wajah ayu Afika. Segera kupercepat
laju mobilku. Dan akhirnya kami sampai disebuah rumah sederhana dengan halaman
yang lumayan luas dan tampak asri dengan aneka pepohonan dan bunga.
”Bunda..ini
tempat apa ?” tanya Afika padaku. Aku hanya menjawab pertanyaan Afika dengan
senyuman. Segera kami turun dari mobil. Belum sampai aku mengetuk pintu,
teriakan anak anak sudah menyambut
kedatangan kami.
”Kakak
Aninda ! Kakak kok nggak pernah main kesini lagi” tanya salah seorang dari
mereka.
”Iya..sayang
kakak kerja di Jakarta” jawabku.
”Oh
ya...kenalkan ini keponakan kakak. Namanya Afika” lanjutku. Afikapun berkenalan dengan mereka. Aku berharap
dengan mengajak Afika ke panti asuhan ini, bisa mengembalikan keceriaannya. Aku
sering menyisihkan penghasilanku dari menulis untuk panti ini. Maka tak heran
jika anak anak disini mengenalku.
”Afika yuk
kita main ” kata Rani salah satu anak panti. Afika menggelengkan kepala dan
masih menggelayutkan tangannya dipinggangku.
”Oh ya
sudah..nanti saja mainnya ya..mungkin kamu masih capek” kata Rani.
”Afika, kamu
lihat banyak anak seusiamu disini. Mereka semua disini tidak mempunyai
orangtua, bahkan saudara. Mereka semua disini dididik oleh ibu panti. Anak anak
itu mendapatkan dekapan cinta dan kasih sayang disini. Bahkan ada yang dibuang
oleh orangtuanya ketika masih bayi, karena tidak dikehendaki kehadirannya”
kataku menjelaskan.
”Lalu mengapa
mereka semua ada disini ?” tanyanya.
”Untuk mendapatkan
kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orangtua atau saudara mereka. Kamu
beruntung Afika. Kamu masih mempunyai eyang kakung, eyang putri, bunda Aninda
serta mama Nadia, yang menyayangimu. Yach..meskipun mama Nadia terlihat tidak peduli
sama kamu, tapi sebenarnya dia sangat sayang sama kamu. Dia menyayangimu dengan caranya sendiri” jelasku. Terlihat Afika termenung dengan
penjelasanku.
“Kamu lihat
mereka semua tetap ceria kan. meskipun tidak mempunyai keluarga ? Kita semua
harus tetap menjalani hidup kita dengan semanga,t karena Tuhan selalu bersama
kita. Kamu tidak boleh sedih dengan ejekan teman temanmu. Karena masih ada
Tuhan yang memberikan cintaNya untuk kita” jelasku.
”Bunda,
Afika mau main sama mereka” kata Afika. Seketika rona keceriaan muncul kembali
di wajahnya. Ya Tuhan...lindungilah dia,
jangan pernah Kau biarkan dia lepas
dari dekapanMu.
Kubuka lembar terakhir album itu.
Kutatap foto seorang gadis dengan seragam pramugari tampak begitu anggun dan
elegan. Ku melihat diriku ada dalam foto itu. 17 tahun lalu saat asa dan cita
masih tergantung diawan, akupun berusaha
meraihnya, menggenggamya kuat namun akhirnya berubah menjadi butiran pasir yang
hilang tak berwujud. Lagi
lagi Nadia menghancurkan segala asa, cita, dan cintaku. Kebahagiaanku akan cinta
hilang setelah pertunanganku dengan Pandu. Runtuh jiwa dan hatiku saat melihat
kebersamaan Pandu dan Nadia. Pelangi yang baru saja tercipta luruh oleh hujan
dan badai. Saat itulah aku memutuskan berhenti dari pramugari. Kutak bisa
berkarya dengan pilot yang menghianati cintaku. Satu tahun aku bertahan hidup
di kota Jakarta hanya dengan menulis di sebuah majalah. Aku yakin ada kebaikan
untukku dibalik semuanya. Sampai suatu ketika agency pemandu wisata menerimaku
untuk menjadi pemandu wisata di Bali. Ini adalah berkah yang luar biasa
untukku. Pekerjaan itulah yang kini menemani hidupku. Dan saat ini sinar
kerinduan ada untuk Nadia. Cintaku padanya mengalahkan kebencian yang pernah
ada. Namun dia takkan pernah ada di dunia ini lagi. HIV mengalahkan semuanya.
Surga yang dia puja, kebebasan yang disembahnya menghancurkan kehidupannya. Aku
tidak ingin Afika mengalami semua ini. Tak terasa air mata membasahi pipiku.
Air mata kerinduan dan kebahagiaan karena Afika kini tumbuh menjadi gadis yang
santun, cerdas dan dia adalah calon pengacara.
”Mama !” Suara kecil itu
mengagetkanku. Ternyata Sahira putri kecilku, yang disusul Afika dibelakangnya.
Dia menyusulku dari Bali rupanya. Sinar
kerinduan terpancar dari bola matanya yang bulat. Dia adalah buah cintaku dengan
mas Angga, dokter yang menangani kasus Nadia. Ya…semua ini adalah rencana Tuhan
yang memberikan anugerah terindah dalam hidupku. Kupeluk kedua mutiara cintaku
dengan penuh kasih. Afika dan Sahira. Kutak ingin keindahan kemilaunya pudar
karena setitik noda yang akan merusak segalanya. Keindahan dari hati itu
laksana kilauan mutiara yang memberikan kecantikan abadi bagi pemakainya
Mutiara yang tumbuh di dasar laut lebih indah dan lebih berharga daraipada bunga yang tumbuh di tepi jalan.
KEDAMAIAN HATI SUMBER KEBAHAGIAAN
Kehidupan di dunia ini penuh dengan warna. Demikian juga dengan sifat manusia.
Perasaan iri, benci, ingin dipuja adalah sifat yang dimiliki oleh manusia.
Lantas apa yang menjadi tujuan utama manusia hidup di dunia ini ? Apakah
berlomba-lomba untuk mengumpulkan kekayaan dan kekuasaan ? Pada umumnya orang
dipuja hanya karena pangkat dan derajatnya.
Aku mempunyai seorang teman. Dia
bernama Rani (tidak nama sebenarnya). Dia berasal dari
keluarga terpandang. Ayahnya
adalah salah seorang pejabat di daerahku. Sedangkan ibunya sebagai istri
seorang pejabat tentunya sangat aktif dalam berbagai macam organisasi. Semula
aku berpikir sangat enak dan nyaman sekali menjadi Rani. Semua serba ada, dan
sangat mudah sekali jika menginginkan segala sesuatu. Sekolah selalu antar
jemput mobil mewah. Tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Ingin udara sejuk
tinggal menyalakan AC di kamar. Sama sekali tidak pernah merasakan kekurangan
sedikitpun. Rasanya kebahagiaan itu selalu ada untuk dia. Tapi aku tidak pernah
melihat keceriaan yang muncul di wajahnya. Tidak pernah ada senyuman yang tulus
dari hatinya. Lain halnya dengan Andi (bukan nama sebenarnya) anak tetanggaku.
Andi berasal dari keluarga sederhana yang ekonominya pas-pasan. Ayahnya hanya
seorang penjaga sekolah, sedangkan ibunya pembantu rumah tangga. Tapi aku
selalu melihat rona kegembiraan pada wajah mereka. Seolah-olah tidak pernah ada
masalah apapun dalam keluarga mereka. Demikian juga dengan Andi. Dia selalu
ramah dengan semua orang, selalu ceria setiap berangkat sekolah walau dengan
sepatu yang penuh jahitan. Seakan-akan dia tidak peduli dengan keadaan dirinya.
Padahal aku tahu untuk bisa makan sehari-haripun mereka sudah senang walaupun
itu hanya dengan sambal saja. Suatu kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan
kehidupan Rani yang berasal dari keluarga kaya.
Suatu hari Rani bermain ke
rumahku. Dia memang sahabat dekatku. Seperti biasa tidak tampak rona
kegembiraan pada wajahnya. Meskipun dia sahabat dekatku, dia tidak pernah
menceritakan sedikitpun tentang keluarganya. Sehingga aku merasa semua
kehidupan yang dijalaninya sangatlah indah sekali karena semua serba ada. Dia
memandangi foto keluargaku yang tergantung didinding. Foto ayah, ibuku, aku dan
adikku. Dia memandangi foto itu sangat lama sekali. Memang ada perbedaan antara
ayah, ibuku juga adikku dengan papa serta mamanya. Setiap kali dia main
kerumahku, selalu disambut oleh ayah dan ibuku serta kejahilan-kejahilan
adikku. Lain halnya kalau aku main ke rumah dia. Rumah itu bagiku sangatlah
sunyi sekali. Aku tidak pernah bertemu dengan orang tuanya Rani. Pernah suatu
hari Rani berkata padaku, kalau dia iri terhadap aku. Aku tak mengerti apa yang
membuat Rani iri terhadapku. Sepertinya aku nggak pantas untuk diiri. Dari segi
ekonomi, jelas aku kalah besar dibanding dia yang anak pejabat. Dari segi
fisik, dia juga jauh lebih cantik dari aku. Lantas apa yang membuat dia iri
padaku ? Suatu pertanyaan yang aku belum mengerti jawabannya.
Suatu hari aku akan mengembalikan
buku yang kupinjam ke rumah Rani. Sebuah rumah mewah, berpagar tinggi, di jaga
oleh satpam, dan di depan rumah terparkir dua buah mobil mewah. Suasana yang
jaauuuhhh berbeda dengan kehidupanku dan keluarga Andi tetanggaku. Dengan
melihat rumah semewah itu rasanya aku ingin sekali tinggal di dalamnya. Aku
berpikir pasti dengan kehidupan yang serba ada seperti Rani pastilah sangat
bahagia dan nyaman. Ketika aku masih terbuai dengan lamunanku, aku mendengar
pintu kamar dibanting sangat keras sekali. Kemudian ayah Rani keluar dari rumah
mewah itu dengan tidak menghiraukan kehadiranku sama sekali. Tak lama kemudian
disusul mamanya Rani dengan sikap yang sama, tidak peduli dengan kehadiranku.
Mereka naik mobil sendiri-sendiri. Suasana yang tidak pernah kutemui sama
sekali di rumahku. Dari situlah aku tahu mengapa Rani lebih betah di rumahku,
dan dia merasa iri dengan aku. Sungguh sayang sekali rumah semewah ini terasa
kering, karena tidak ada penyejuk yang memberikan kesegaran didalamnya. Lain
dengan keluarganya Andi yang penuh kesederhanaan. Tapi dari bibir mereka selalu tersungging senyum manis yang
memberikan kesejukan setiap insan yang menerimanya. Dari semua yang aku lihat,
aku bisa mengerti bahwa kedamaian hati jauh lebih utama dari segala apapun yang
ada didunia ini. Tujuan manusia hidup didunia ini adalah mengabdi untuk masa
depan. Mengabdi dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan atau balas jasa untuk
mendapatkan masa depan yang abadi, yaitu ketenangan dan kedamaian hati. Bersyukur
atas nikmat yang ada, tidak ngoyo, tidak pernah iri atas kesuksesan yang
dicapai orang lain. Karena setiap orang pasti akan sukses, tergantung bagaimana
cara kita menggapai kesuksesan yang masih tergantung di atas sana. Pujian
karena harta, kekayaan, pangkat dan derajat sangatlah tidak berarti sama sekali.
Karena kebahagiaan yang utama adalah kedamaian dan ketenangan hati. Sikap
rendah diri dan selalu tersenyum dengan setiap orang yang kita kenal akan
menciptakan suasana yang indah dalam kehidupan. Senyum terhadap orang lain
adalah ibadah, karena memberikan ketenangan bagi yang melihatnya.